Jalan Terjal Politik Orang Muda

floressmart.com- “Revolusi ” dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi, diapun harapan. Pramoedya Ananta Toer (Larasati, 1960)

POLITIK ternyata mengalahkan mitos adikuasa umur. Pernyataan itu setidaknya terbukti dalam Pilkada Dharmasraya, Sumatera Barat. Kabupaten yang beribukotakan Pulau Punjung dan berluas wilayah 3.346 km persegi itu, memiliki seorang bupati berumur 26 tahun.

Adalah Sutan Riska Tuanku Kerajaan, pria berusia dua puluh enam (26) tahun berhasil mengalahkan inkumben, Adi Gunawan dengan perolehan suara signifikan sebesar  61.775 atau sebesar  63,75 % suara sah.

Perolehan ini dianggap cukup aneh, pasalnya, Sutan tidak memiliki pengalaman politik apapun sebelum menjadi calon bupati. Sebaliknya, kompetitornya, Adi Gunawan merupakan mantan wakil ketua DPRD setempat dan mantan Bupati Dharmasraya dalam lima tahun terakhir.

Harian Tempo (12/12), juga harian kenamaan Republik lain memberitakan kemenangan Sutan yang dianggap cukup mencengangkan itu. Soalnya, dia bakal menjadi bupati paling muda di seluruh penjuru Republik. Sutan, tinggal menunggu palu KPU setempat, untuk menetapkan dirinya menjadi kepala daerah.

Adikuasa Inkamben

Dari sisi kepartaian, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih merajai kemenangan Pilkada serentak di seluruh Indonesia. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menyebutkan, PDIP meraup kemenangan di 105 daerah.

Seperti dirilis media nasional Tempo (15/12), perolehan PDIP ini disusul oleh Gerindra yang memperoleh kemenangan di 87 daerah, Nasdem (85), Demokrat (85), PAN (80), Demokrat (68), PKB (65), Hanura (63), Golkar (49), PBB (32), PKPI (31), PPP (28).

Perolehan Golkar disebut menjadi yang terburuk tahun ini. Sibuk dengan drama perebutan pucuk pimpinan partai, menyebabkan perolehan suara partai Beringin merosot. Belum kasus ‘Papa Minta Saham’ yang cukup memalukan partai kader yang merupakan anak kandung ideologis rezim Suharto itu.

Mari tengok ke level daerah, khususnya di Pulau Flores. Di Manggarai Barat, inkamben kembali memenangkan kompetisi seraya menumbangkan empat kompetitornya dengan perolehan suara 27.592 (24,68 %).

Di Manggarai, seperti yang dirilis situs resmi KPU, meski masih menyisakan debat politik panjang pasca pencoblosan 9 Desember lalu, pasangan Deno-Madur dinyatakan unggul dengan perolehan suara 73.675 (50,64 %). Sedangkan, kompetitor Hery-Adolf mendulang suara sebanyak 71.820 (49,36 %). Alhasil, selisih suara kedua paket ini 1.855 suara (1,28 %).

Baca juga  Tentang Segelas Kopi, Obrolan Politik, Dan Topeng Sosial

Terpisah di Kabupaten Ngada, pasangan Marianus Sae-Paulus Soliwoa dipastikan kembali memimpin daerah itu lima tahun ke depan. Sae-Soliwoa menang dengan perolehan suara 52.164 (68,05 %). Kini, Sae tinggal butuh pengesahan komisi pemilihan umum setempat.

Jelaslah sudah. Tiga kabupaten di Flores kembali menunjukkan adikuasa inkamben, meski KPU belum mengetok palu untuk mengesahkan hasil Pilkada serentak 9 Desember itu.

Jalan Terjal Orang Muda

Jika politik lokal Dharmasraya sudah mematahkan mitos umur tua dan muda, sementara di Pulau Flores, geliat politik orang muda masih menjadi sebuah “jalan terjal”menuju puncak kepemimpinan.

Sebut saja kasus Manggarai, orang-orang potensial masih betah menjadi bintang televisi dan akademisi di Jakarta. Belum banyak yang menjajal kepemimpinan politik daerah. Persoalan utamanya adalah elektabilitas, konstituensi, popularitas, dan akseptabilitas yang masih rendah di ruang politis daerah.

Faktor modal sosial dan finansial masih menjadi satu dari sekian kendala klasik yang membuat gerakan politik orang muda bak jalan berpanas-panasan di padang gurun perjuangan politik daerah. Jalan orang muda masih terjal menujuk puncak kepemimpinan daerah. Bak mendaki puncak Jayawijaya seorang diri, tanpa peta dan kompas.

Atmosfir politik daerah masih membutuhkan lebih dari sekadar popularitas dan selebritisme politik. Kerja nyata dan investasi sosial menjadi kata-kata kunci penerimaan masyarakat.

Direktur Eksekutif Institute of  Resource, Governance, and Social Change, Dominggus Elcid Li berpendapat, kalau mau berkompetisi di daerah, maka minimal harus sudah sepuluh tahun bekerja nyata di daerah. Sebab, dalam banyak kasus, tak banyak jagoan-jagoan perantauan yang menang berhadapan dengan para “jagoan”lokal.

Beberapa tokoh muda di antaranya Ansi Lema, Melki Lakalena, Boni Hargens, misalnya, yang hendak masuk dalam pusaran politik lokal Nusa Tenggara Timur, harus sudah berani menginvestasikan diri masuk dalam kerja panjang demokrasi lokal kalau mau mencalonkan dan dicalonkan menjadi pemimpin di daerah.

Baca juga  Menangkap Repertoire Gersos Usai Kongres dan Pilkada

Dalam contoh kandidasi Sebastian Salang (peneliti Formappi) misalnya, dukungan partai politik masih menjadi kendala. Rupanya, partai politik masih memilih cara kerja aman dengan memahat dukungan pada para calon yang mereka anggap tingkat akseptabilitasnya bakal mendulang suara mayoritas. Alhasil, Salang pun pulang, kembali ke ibu kota Negara, Jakarta.

Meski demikian, kemunculan orang-orang muda dalam proses Pilkada di Ngada, Manggarai, dan Manggarai Barat merupakan tanda-tanda positif kebangkitan demokrasi orang muda dalam kurun waktu lima sampai lima belas tahun mendatang. Dipastikan, ke depan, orang muda bakal mematahkan mitos kejayaan politisi-politisi purnabakti.

Di Manggarai, tak sedikit anak muda yang memeriahkan pesta demokrasi lokal dengan ragam talenta dan kemampuannya. Ada yang masuk sebagai tim sukses, tim relawan, tim media, tim strategi, tim keluarga, dan tim kreatif. Ada pula yang mengambil peran-peran strategis dengan menjadi anggota KPU, Panwas, dan pemantau civil yang independen.

Semuanya ini mematahkan stigmatisasi pasifitas politik kalangan muda. Demokrasi bukan hanya milik istimewa orang-orang tua, melainkan berada di tangan orang-orang muda, generasi digital.

Syahdan, praksis selebrasi kemenangan pilkada, bukan lagi kemenangan partai politik, atau kemenangan tokoh politik tertentu yang menjadi “raja-raja” lokal, melainkan selebrasi peran kaum muda yang memberi kontribusinya dalam perkembangan demokrasi lokal di tanah Flores.

Viky Jalong, akademisi jenial, asal Manggarai Timur, yang saat ini bekerja di Universitas Gajah Mada Yogyakarta menyebutkan, politik merupakan sebuah pembelajaran civic jangka panjang. Pilkada, kemudian, menjadi saat mendidik diri sebagai warga negara, menunjukkan tanggung jawab sosial, moral, dan politik untuk kemajuan negara.

Sinergi Orang Muda

Demokrasi lokal merupakan kerja jangka panjang. Butuh grand design untuk penciptaan pemimpin, riset ilmiah soal program kerja, pembentukan jejaring kerja yang militan, pemetaan isu dan aktor, dan kerja pemenangan yang taktis dan massif dengan memanfaatkan segenap smber daya kalangan muda.

Baca juga  Politik Manggarai Berkelamin Laki-Laki

Saat partai politik gagal melakukan kaderisasi kepemimpinan dan seleksi pemimpin tersumbat karena dominasi birokrat yang enggan habis. Saatnya, orang muda butuh cara kerja a la Taliban untuk pembentukan kader-kader yang militan dan berani mengambil peran strategis dalam demokrasi lokal. Jalan ini memang terjal, tapi setidaknya orang muda sudah berani menyusun tangga-tangga ke arah sana.

Orang muda memang identik dengan energi yang kuat dan semangat. Tapi semangat  butuh sinergi, bukan kerja sendiri.

Sejarah mengajarkan, Sutan Sjahrir itu tokoh muda gerakkan di pusaran politik pra dan pasca kemerdekaan. Dialah yang memaksa Soekarno memproklamasikan kemerdekaan saat mendengar kekalahan Nippon dari Sekutu. Namun, Soekarno ragu dan menolak.

Sjahrir marah besar. Dengan darah mudanya yang meluap-luap, ia memaksa proklamasi dilakukan dua hari sebelum tanggal 17 Agustus, yakni pada 15 Agustus 1945 di Cirebon, Jawa Barat. Dan itu terjadi. Dr Soedarsono-lah (ayah mantan Menteri Pertahanan Yuwono Sudarsono) yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia sebelum Soekarno dan Hatta.

Sjahrir juga yang melakukan pemufakaatan untuk menculik Bung Karno ke Rengas Dengklok dan memaksa Kusno (nama kecil Bung Karno), memproklamasikan kemerdekaan RI dengan segera di bawah tekanan kalangan muda.

“Sukarno itu man wijf, pengecut dan banci, ” ucap Sjahrir kepada Badio (seorang rekan seperjuangannya) untuk melampiaskan murka terhadap Bung Karno seperti dikutip Buku Perjuangan Revolusi (1987).

Syahdan, Sjahrir (Pelopor Partai Sosialis Indonesia) akhirnya sadar, proses politik itu butuh waktu. Politik tak sekadar semangat berapi-api, tetapi sinergi. Dan sinergi untuk perubahan sosial itu butuh kerja panjang dan kebersamaan. (*)

Rofiantinus Roger: Alumnus Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang, pernah belajar di Sekolah Demokrasi (LAP Timoris, Komunitas Indonesia untuk Demokrasi, & Netherland Institute for Multiparty Democracy/NIMD), Mantan Editor Desk Opini HU Victory News, sekarang bergabung di Institute of Resource, Governance, and Social Change (IRGSC).

 

 

 

Beri rating artikel ini!
Tag: