Bersih-Bersih di Manggarai?

Oleh : Fian Roger*

“Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah ditulis, ” Anonimous Writter.
Kepemimpinan lokal di Manggarai perlu berkaca pada arus deras gaya kepemimpinan mondial dan nasional. Beberapa tokoh dunia yang sedang fenomenal di antaranya Angela Merkel (Jerman) dan Vladimir Putin (Rusia). Sementara, di Indonesia, Presiden Joko Widodo masih menjadi figur fenomenal.

Kanselir Jerman, Angela Merker, terpilih sebagai persona 2015 versi majalah elite Paman Sam, Time. Pengumuman ini dirilis tepat 9 Desember lalu, berbarengan dengan Pilkada Serentak Republik, termasuk di Nusa Lale. Seperti yang dilansir Deustche Welle (DW), Merker dipilih karena dianggap mampu mengatasi krisis pengungsi dan migran, serta krisis ekonomi di Eropa.

Disebutkan, Merkel berhasil mengalahkan beberapa calon lainnya di antaranya pemimpin ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi, yang menempati peringkat kedua. DW mencatat, di sepanjang sejarah Jerman pasca Perang dunia ke-2, belum ada politisi Jerman–bahkan Hitler sekalipun– yang mampu mematahkan pesona anak seorang pendeta dari perdesaan Jerman itu.

“Ia menerapkan perubahan di setiap sektor kebijakan, karena memang masuk akal dan menantang semua ikatan ideologis dan kecenderungan di partainya, ” ucap Jacqueline Boysen, Penulis Biografi Merkel.
Lain Merkel, lain pula Vladimir Putin, penguasa Kremlin Rusia. Imperator itu begitu fenomenal di peghujung 2015. Ia berhasil mengalahkan sensasi yang dibikin-bikin oleh calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump.

Di penghujung tahun ini, Putin menghadirkan 1.400 jurnalis di Kremlin. Langkah Putin ini menjadi show off untuk menonjolkan dirinya sebagai negarawan. Kehebatan Putin adalah mampu mendesain pencitraan halus sehingga popularitasnya makin tinggi di masyarakat. Alhasil, ia dianggap negarawan yang dicintai rakyatnya dan independen, walau Rusia dilanda krisis ekonomi lantaran melonjaknya harga minyak dunia.

Survei yang dilakukan media pemerintah setempat menyebutkan, meski ekonomi Rusia sedang memburuk, tetapi masyarakat Rusia masih menyanjung keberhasilan dan keberanian Putin. Kalimat Putin yang fenomenal belakangan ini adalah komentarnya soal perang terhadap teroris di Timur Tengah. Ucapan Putin itu mengejutkan, justru saat Paus Fransiskus melawan stigmatisasi terhadap umat Islam (islamofobia) dan perilaku terorisme pasca serangan Paris.

“Memaafkan teroris itu urusan Tuhan, tetapi mengirim mereka ke Dia (Baca: Tuhan), terserah saya, ” ujar Putin menanggapi Serangan Teror di Paris dan jatuhnya pesawat Metrojet 9268.

Baca juga  Pilgub NTT Jangan Dirasuki Politik Identitas

Putin memang tak sedang melawak. Perang terhadap kelompok militant Islamic State of Iraq dan Al Sham (ISIS) memang menjadi agenda militer Kremlin. Meski sudah jadi rahasia umum, ISIS itu dijadikan ‘boneka’ dalam intrik politik canggih penguasaan ladang-ladang minyak di Timur Tengah.

Pria Bermata Elang

Penulis asal Manggarai, Edu Manto menulis buku “Presiden: Manusia Setengah Binatang” (2014). Ia mengaku jatuh cinta pada pesona Sang Vladimir. Putin, kata Peneliti Deliberasi Institute itu, merupakan tipikal pemimpin tangan besi yang mengembalikan pemerintah dari “gaya abu-abu” menjadi pemerintah yang tegas dan berwibawa.
Di tengah gempuran pengaruh ekonomi Amerika, China dan Uni Eropa, Putin tetap membangun kekuasaan yang kokoh, kuat, dan sukar digeser oleh politikus dalam dan luar negeri.

Tertarik dengan pesona Putin, sang pria bermata elang itu, saya berulang kali menonton film dokumenter tentang Putin. Putin yang berlatar intel militer itu besar dalam rezim Gorbachev. Tak tahan dengan korupsi rezim yang berkuasa pasca Gorbachev, Putin menghabiskan semua musuhnya satu per satu tetapi dari dalam sistem dengan perlahan-lahan tapi pasti.

Putin yang bermata elang itu konon agak mirip dengan salah satu politisi asal NTT yang sekarang duduk di senayan. “Sama-sama bertipe mata elang,” ujar Edu Manto, Alumnus Program Magister Filsafat Politik STF Driyarkara Jakarta itu.

Putin mengabungkan kekuatan intelejen, media massa, dan militer untuk mengokohkan kekuasaan. Sistem babat habis a la Putin ini terbukti ampuh. Ia melumpuhkan prinsip-prinsip pseudo-demokrasi di Rusia dengan pukulan knock out.

Dalam satu kali pukulan dan tebasan semua lawan politiknya tumbang satu per satu. Dengan mendesain pencitraan lewat media arus utama Rusia, Putin berhasil meyakinkan rakyat ihwal kenegarawannya. Tercatat, dia sudah menguasai Kremlin sejak tahun 2000 sampai detik ini.

Pukul Jauh, Kena Dekat

Rezim ‘demokrasi lima menit’ Republik telah memenangkan Joko Widodo sebagai presiden pada Pilpres tahun lalu. Bersih-bersih dengan mantra revolusi mental memang tampak sebagai metode penyederhanaan pemerintahan yang dalam pemerintahan SBY agak ribet dengan sesaknya Republik dengan komisi-komisi.

Cara Jokowi membersihkan pemerintahan pun memang terkesan lambat tapi pasti. Persis seperti filsafat Jawa, alon-alon asal klakon. Pelan-pelan asal terlaksana.

Pukul jauh kena dekat. Untuk mememberangus mafia minyak dan gas, juga membasmi satu-satu mafia tambang, Jokowi melibatkan dapur pemikiran berbasis riset dari para relawan yang setia mendukungnya saat Pilpres. Jokowi sedang berada dalam mega desain untuk membongkar satu-satu praktik busuk di lingkup kekuasaanya.
Kasus “Papa Minta Saham”, misalnya, tak hanya menampar partai beringin, melainkan melibas para bandar muka lama dalam internal partai-partai besar koalisi.

Baca juga  Tuliskan Pancadarma Disetiap Kiprah Menggugah Karya dalam Semangat Hardiknas

Sungguh pukulan jauh, tapi sasarannya dekat. Alhasil, beberapa pendana kampanye Jokowi-JK juga kena batu dan kebakaran jenggot. Jelas. Tak ada yang bisa sok suci di kisaran kekuasaan koalisi.
Target penyederhaan pemerintahan, demi efektifnya belanja Republik memang menjadi kerja panjang. Misalnya, debat mengenai komisi-komisi mengandaikan Indonesia terus berada dalam masa transisi abadi setelah 15 tahun reformasi.

Padahal, reformasi tidak bertujuan agar Indonesia terus berada dalam masa transisi abadi melainkan terarah pada sistem pemerintah yang sederhana, bersih, efektif, akuntabel, dan merakyat.
Syahdan, debat mengenai pelemahan ataupun penguatan komisi anti rasuah menjadi kontra-produktif. Alasannya, kerja jangka panjang pemerintah adalah memperkuat kepolisian, kejaksaan, dan lembaga peradilan. Bersih-bersih harus mulai dari sana. Dan komisi anti rasuah hanyalah salah satu tangga menuju ke arah itu.

Aroma Mutasi Dini?

Menanti gugatan Paket Hery-Adolf dalam 45 hari ke depan, pasangan Deno-Madur menyatakan sudah menyiapkan Prof. Yusril Isra Mahendra (Politisi Partai Bulan Bintang), sebagai penasihat hukum kalau-kalau perkara sengketa hasil Pilkada 9 Desember dibawa ke Mahkamah Konstitusi.
Dalam celah-celah waktu itu, santer beredar isu bersih-bersih birokrat yang bakal dilakukan pemerintah terpilih. Rupanya hembusan isu jauh melampaui fakta. Tentu isu-isu ini perlu diinvestigasi lebih jauh kebenarannya di pusaran Kota Dingin.

Bersih-bersih yang dimaksud bukan sekadar mutasi jabatan birokrasi, melainkan mengembalikan marwah pemerintahan daerah ke jalan yang tepat, misalnya pada efisiensi belanja pegawai demi pembangunan yang lebih pro masyarakat miskin dan pro pertumbuhan ekonomi daerah.

Kata ‘miskin’ tentu saja bukan istilah klise ala epigon-epigon studi pembangunan. Miskin itu menjelaskan,”berapa uang cash yang berada di saku masing-masing rakyat.” Cash flow yang beredar di kantong-kantong masyarakat akar rumput yang mayoritas itu, tentu saja akan berpengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Jelas saja, secanggih apapun kebijakan populis pemerintah terpilih akan macet, manakala para eksekutor di level teknis satuan kerja pemerintah daerah gagal menerjemahkan visi, misi, kebijakan, strategi, dan program bupati dan wakil bupati terpilih.

Baca juga  Catenaccio Italia vs Ein Traum Wurde Wahr Jerman, Dari Gaya “Move On” hingga “Kopi Espresso”

Kemandekan pembangunan beraras pada tunduknya logika pembangunan pada rezim adminsitrasi. Pemberdayaan petani, pekebun, supir, ojek, buruh pertokoan, profesional muda, pedagang kecil, nelayan, dan para pengangggur pun tidak boleh hanya menjadi sekadar program-program periferial, tetapi harus jadi program sentral lima tahun ke depan.

Syahdan, bersih-bersih berhasil manakala logika pembingkaian program kerja pemerintah jelas dan tegas dalam lima tahun ke depan. Capaian terukur dalam fase tiga bulanan, semesteran, tahunan, dan lima tahunan akan menjadi wajah periodik capaian-capaian bupati dan wakil bupati terpilih.

Merkel, yang menjadi persona 2015, memperlihatkan kepemimpinan yang berani mengambil risiko walau tak populis untuk menyelamatkan Eropa dari krisis. Meski demikian, nurani kemanusiaanya masih berjalan manakala ia membuka pintu hospitalitas bagi para pengungsi dan migran yang memohon suaka politik di Jerman.
Putin yang fenomenal, menebar virus pemimpin bermata elang, pemimpin yang paham siapa dan apa sasaran tembaknya. Meski dibenci, dicaci maki, ia berani dan tegas menumpas apapun yang menghalangi Kremlin dalam mencapai kejayaan. Putin menyebar virus mata elang, tiran yang berprinsip, keras, dan tegas.

Tak harus meniru Putin lurus-lurus, kepemimpinan Manggarai hari ini harus tegas terhadap lakon politik “imi-amas.” Politik tak jelas beridentitas. Lakon politik bertopeng. Marwah pemerintah wajib dikembalikan. Cukup sudah elite dikuasai ‘para pembisik licik bermodal’ yang memanfaatkan kedekatan politis seraya berhasrat membagi-bagi jatah demi kepentingan jangka pendek.

Jokowi dengan jurus pukul jauh kena dekat, menunjukan –lakon politik yang rada semitik’– dengan capaian terukur. Tak tampak heboh, tapi pelan-pelan ada hasil. Euforia program 100 hari yang acapkali menjadi pembodohan publik jadinya tak perlu, sebab kerja pemerintahan membutuhkan sinergi intelegensia semua pemeluk kepentingan dan solidaritas demi kemajuan daerah.

Manggarai hari ini memang butuh perubahan. Tapi, tak usalah buru-buru seperti politik angin ribut. Bersih-bersih itu mulai dari sentral, baru keluar ke periferial. Dari dalam lingkaran inti, baru ke pinggiran. Dari kepala, barulah ke bawahan. Sebab, ikan busuk dari kepala. (*)

Fian Roger: alumnus “Sekolah Demokrasi” kerja sama kolaboratif Lembaga Advokasi dan Penelitian ‘Timoris,’ Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), dan Netherland Institute of Multiparty for Democracy (NIMD).

Beri rating artikel ini!
Bersih-Bersih di Manggarai?,5 / 5 ( 1voting )
Tag: