Tokoh Adat Desak Pemda Mabar Bongkar Compang Di Pede

floressmart.com—Sejumlah tokoh di Labuan Bajo Mangarai Barat Nusa Tenggara Timur mendatangi bupati Agustinus Dh Dula, Senin 18 April 2016.  Kedatangan mereka untuk memberi tahu secara resmi terkait keberadaan  Compang (mesbah adat) di dalam kawasan pantai Pede yang dibangun sekelompok orang baru-baru ini.

Dihadapan bupati Dula  mereka mengaku sebagai tokoh kedaluan Nggorang dan diutus oleh masyarakat Nggorang. Dalam kesempatan itu mereka meminta kewenangan pemerintah untuk membongkar Compang ‘abal-abal’ pantai Pede. Menurut mereka, keberadaan Compang di bibir pantai dipandang sebagai penistaan terhadap adat-istiadat Manggarai. Compang dalam budaya Manggarai Raya merupakan roh  sebuah kampung sehingga diposisikan di tengah-tengah kampung dan berhadapan dengan rumah adat.

Baca juga  Pulau Sauh Putus Itu Manggarai

“Agar tidak menimbulkan konflik, kami serahkan pembongkaranya oleh pemerintah, sebab pantai Pede kini sudah jadi asset pemerintah. Namun jika pemerintah justru tidak bersikap maka kami akan bongkar sendiri. Dalam hal ini kami tidak akan peduli dengan apa yang akan terjadi,” Kata Abubakar Sidik, juru bicara wewakili tokoh adat dalam dialog bersama bupati Dula.

Mereka menilai keberadaan Compang tersebut telah merusak tatanan budaya dan adat istiadat lokal. Lebih lanjut dikatakan, pembangunan Compang versi kelompok yang diduga ‘LSM’ itu dikhawatirkan bisa mendatangkan tulah atau petaka dikemudian hari, khususnya bagi keturunan kedaluan Nggorang yang konon sebagai empunya pantai Pede sebelum diserahkan ke pemerintah.

Baca juga  Kamelus Deno; Rekonsiliasi Dan Bongkar Sekat-Sekat

“Kalau tulah leluhur ditimpakan kepada pembuat Compang siluman itu tidak masalah, tapi jika itu menimpa keturunan kami, itu yang kami tidak terima,” Ujar Abubakar.

Tampak hadir dalam dialog yang digelar di ruang kerja bupati Dula; H. Ramang Isaka  putera mendiang H. Isaka( Dalu ) Nggorang dan Jamaludin Pahu  Tua Golo Nggorang.

Baca juga  Final Perancis VS “Perancis” hingga “Manggarai Raya Celaka 12, Celaka 13?”

“Terus terang kedaluan Nggorang tersinggung dengan ulah kelompok yang membangun compang secara tidak hormat di situ. Seenaknya saja orang-orang itu main drama maut di bumi Manggarai Barat ini. Mereka orang sekolah tapi berani menginjak-injak adat istiadat ,” Sambung Abubakar bernada prihatin.

Menjawab tuntutan mereka, bupati Dula berjanji akan menindaklanjuti persoalan itu bahkan menyatakan segera menggelar rapat staf.  “Seperti apa hasilnya nanti kami sampaikan ke bapak-bapak. Rapat staf digelar siang ini juga,” Kata Bupati Gusti Dula. (jhs)