Dua Hari Pelanggan PLN Di Ruteng Gelar Aksi Protes, Ini Musababnya

floressmart.com—Puluhan pelanggan listrik di kota Ruteng Manggarai Nusa Tenggara Timur kembali mendatangi kantor PLN setempat, Selasa 19 Juli 2016 melanjutkan aksi serupa yang digelar Senin kemarin.

Mereka murka dengan arogansi petugas PLN yang mengganti secara sepihak meteran listrik mereka dari paskabayar menjadi prabayar. Munurut pengunjuk rasa, petugas PLN Ruteng salah menggunakan wewenangnya sebab mengganti meteran listrik dari paskabayar ke prabayar tergantung persetujuan pelanggan.

“Yang terjadi main paksa, petugas mendatangi rumah kita dan tanpa permisi membongkar meteran. Ini kan biadap namanya,”Kata Johni kordinator aksi.

“Kami minta kepala PLN menunjukan  kepada kami aturan resmi yang mengharuskan masyarakat menggunakan meteran pulsa,” Sambung Johni.

Warga juga membeberkan arogansi petugas PLN yang seenaknya memblokir nomor pelanggan pengguna meteran lama membuat pelanggan tidak bisa membayar tagihan listrik bulanan.

Baca juga  Soal UN Sudah ada, 66 SMP di Manggarai Siap Laksanakan UN

“Mereka (PLN) mengunci resgitrasi pelanggan pengguna meteran lama agar tidak bisa membayar, kemudian kita dianggap penunggak. Ini kan kerja-kerja licik namanya,” Ungkap Johni.

“Banyak dari antara kami (pengguna meteran lama) yang terpaksa menunggak sejak akhir tahun 2015. Tapi siapa juga yang mau membayar, persetan, adu kuat saja antara PLN dan pelanggan,” Beber Johni melanjutkan protes.

Menurut warga, program PLN pintar lebih banyak mudharatnya karena dinilai menyedot banyak pulsa.

Vinsen Jehadut mengungkapkan hingga saat ini dia kekeh tidak mau beralih ke meteran pulsa karena tidak sedikit pelanggan PLN prabayar mengeluh tingginya biaya selama menggunakan pulsa.

“Saya dan tetangga sama-sama pake meteran dengan tegangan 900 volt amper(VA). Dengan beban pakai yang sama, tetangga saya harus beli pulsa Rp.50.000 dua kali sementara saya hanya bayar tagihan Rp.50.000. Itu alas an kenapa saya tidak mengganti meteran,” Ujar Vinsen warga kelurahan Wali itu.

Baca juga  Niko Martin Beberkan Bukti Dugaan PHO Fiktif dan Mark Up Proyek RSUD Matim

Sayanganya aksi protes ini hanya dilayani oleh seorang petugas lapangan PLN. Kepala dan pejabat divisi kantor PLN Ruteng kompak tidak masuk kantor. Rencananya sksi serupa kembali digelar pada 23 Juli 2016 mendatang dengan massa yang lebih besar .

Sementara itu kepada PLN Ranting Ruteng Ruben Mira belum bisa dikonfirmasi. Dihubungi berkali-kali, namun telpon selulernya tidak aktif.

Wartawan Diusir

Aksi protes warga di hari pertama (Senin 18 Juli 2016) berbuntut pada tindak kekerasan terhadap pers. Sedikitnya tiga orang wartawan diusir oleh pegawai PLN saat sedang meliput aksi protes itu. Kamera salah satu wartawan televisi bahkan dirampas hingga kameranya rusak.

Baca juga  Prototipe Kartini Dan Perempuan Masa Kini

“Mereka (pegawai PLN) mulanya memaksa kami menunjukan kartu pers. Setelah ID card kami keluarkan mereka minta surat tugas meliput kejadian itu. Kemudian mereka mendorong kami keluar. Ada satu teman yang kameranya dirampas,”Ungkap wartawan harian Victorynews, John Manasye.

“Kami sudah laporkan kasus di Polres Manggarai. Saya harap polisi menggunakan UU Pers dalam menangani kasus ini,” Tambah John.

Informasi yang dihimpun, kasus kekerasan terhadap sejumlah awak media oleh petugas PLN sedang ditangani unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter).

“Korban dan saksi sudah diperiksa. Kami akan panggil para pelaku,”Kata seorang sumber di Mapolres Manggarai. (js)