Marthen Dira Tome dan Resep “NTT Satu”

floressmart.com—Menjadi seorang nomor satu di NTT ternyata tidak cukup dengan tekad dan yakin, butuh kerja keras juga. Segala cara boleh-boleh saja digunakan untuk ikut suksesi. Mumpung, Pilgub NTT 2018 masih jauh. Politik Pilgub pun mengikuti jalan filosofi semut: “mengumpulkan makanan di musim panas, duduk manis saat musim penghujan”. Beberkan semua janji dan panji-panji politik sedini mungkin biar memanen suara di momen Pilgub 2018 nanti.

                    Alfred Tuname

Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome atau dikenal dengan MDT sedang melakukan itu. Geliat safari politik diusung dalam paket marketing produk yang dihasilkan di kabupaten Sabu Raijua, yaitu air minum berlabel dan garam.

natal dalam berita

Kecurigaan politik dalam tour marketing MDT tentu sah-sah saja sebab bupati yang baru terpilih dalam Pilkada 2015 itu tampak bernafsu lagi untuk memimpin provinsi Nusa Tenggara Timur. Entah diusung oleh partai politik apa, MDT ingin maju lagi sebagai calon gubernur dalam Pilgub NTT 2018.

Marketing produk ala MDT pastinya sejalan dengan marketing politiknya. Ia ingin dikenal dan dekat dengan masyarakat Flores. Dengan begitu, citra politiknya melekat di benak pemilih Flores. Resep politik MDT ini cukup manjur karena menggugah minat masyarakat, merusak peta politik Flores, mengubah geografi kuasa dan mengganggu sebagian politisi di Flores.

Manuver politik MDT ini memang prematur tetapi cukup signifikan. Dikatakan prematur bukan karena ia baru mulai melakukan “hiden campaign” tetapi lantaran ia baru terpilih sebagai bupati Sabu Raijua dalam Pilkada 2015, lalu ingin maju dalam Pilgub 2018.

Boleh jadi, MDT merasa nikmatnya memiliki kekuasaan. Terpilih sebagai bupati tidak cukup untuk memuaskan dahaga kekuasaan. Untuk kasus rakus kuasa seperti ini Goerge Orwell dalam novel “1984” menulis,  “kekuasaan ternyata bukan hanya sebagai alat, tetapi juga tujuan”.

Bagi politisi yang pernah duduk di kursi kekuasaan, politik tidak lagi sebagai pengabdian kepada rakyat. Politik menjadi aktivitas menuju kekuasaan itu sendiri. Demokrasi bukan lagi sebagai “detektor” kehendak rakyat, melaikan sebagai media pemaksaan kehendak politisi rakus kuasa.

Pada konteks itu, demokrasi bermetamorfosa menjadi “l’exploitation de l’homme par l’homme”: mutatis mutandis berarti penidasan politik oleh manusia kepada manusia lainnya. Dalam demokrasi seperti ini, politik berhenti di selangkang elite politik. tinggallah rakyat yang berdiri sebagai penonton dan pesorak untuk para politisi yang voyeur menuju kontestasi politik.

Tentu, berpartisipasi dalam kontestasi politik merupakan hak politik seseorang yang dijamin oleh konstitusi negara ini. Negara tidak melarang siapa saja yang ingin terlibat dalam kontestasi politik. Setelah bebas sebagai terdakwa dalam kasus dugaan korupsi PLS tahun 2007 yang merugikan negara Rp 77 miliar, langkah MDT dalam karir politik seakan tak terbendung. Sorak-sorai para pendukung (dan mungkin juga para penjilatnya) terus terdengar.

Untuk menjadi seorang gubernur, suara pendukungnya di Sabu Raijua tidaklah cukup. MDT mesti mencari kantung suara lain di luar wilayah kekuasaan politiknya itu. Setidaknya ia mencari tokoh-tokoh politik lokal untuk mendapatkan restu politik. Sayangnya, politik tidak lagi berguru pada tokoh sesepuh, tetapi selalu mengikuti matahati yang empati dan matapolitik yang rasional. Primordialisme politik sudah habis dimakan rayap ketidakpercayaan publik. Rakyat sudah mengikuti insting politiknya sendiri.

Selebrasi media yang glamour atas prestasi marketing MDT menyumbang nilai tambah politik. Seakan itu berarti MDT tidak butuh lagi baliho besar atau stiker untuk ditempat di jalanan atau jembatan. Pamor MDT sudah tinggi. Di atas kertas, sketsa politik MDT sudah mulai terang. Suka atau tidak suka, gerak MDT yang ngotot menuju “NTT Satu” sudah terbaca.

Persoalannya, politisi yang marketable hanya bisa berada dalam domain minat partai politik. Sementara, publik sekarang menyoroti politisi yang credible. Jelas, credible tidak equivalen dengan marketable. Credible adalah isi, esensi; marketable adalah kulit, “under-construction”.

Pemimpin yang credible mendapat kepercayaan rakyat karena politik yang dijalaninya benar-benar demi kepentingan rakyat. Sedangkan pemimpin yang marketable hanya menjadikan politik sebagai ruang tawar-menawar demi keuntungan pribadi. Politisi yang credible memiliki kapasitas kepemimpinan lebih baik sebab ia telah diuji dengan batu politik yang dialektik dan tetap berdiri sebagai politisi yang handal. Ia tidak seperti politisi yang marketable yang diramu dengan bahan pemanis dan proses pencitraan yang massal.

Event politik Pilgub NTT 2018 memang masih jauh. Penentu kemenangan politiknya ada di tangan masyarakat NTT. Belum ada yang tahu pasti siap yang jadi juara merebut “NTT Satu”. Akan tetapi, prinsip politik perlu digariskan dengan pasti bahwa calon-calon pemimpin NTT pasca Frans Lebu Raya-Benediktus Litelnoni, harus terdiri dari putra/putri terbaik NTT. Mereka lahir dari dan hidup dalam rahim NTT sehingga mereka dekat mengenal persoalan NTT sesungguhnya.

Sebagai putra terbaik NTT, MDT juga boleh mencalonkan diri sebagai gubernur, tetapi resepnya adalah bereskan dulu persoalan di Kabupaten Sabu Raijua; bereskan dulu persoalan ketidakadilan berkaitan dengan pekerja tambak garam, pencaplokan tanah rakyat untuk tambak garam, privatisasi air mineral, pasar gelap bensin dan minyak tanah, dan korupsi dan nepotisme birokrasi. Setelahnya, silahkan melenggang menuju  ‘NTT Satu” pada Pilgub 2018. Masyarakat NTT menilai dari kerja nyata, bukan nafsu kuasa.

Borong, 2016

Alfred Tuname

Direktur Lembaga Neralino (Network On Reform Action for the Well-being of Indonesia)

 

 

 

 

Beri rating artikel ini!
Tag: