STKIP St.Paulus Ruteng “Cetak” 638 Sarjana Baru

floressmart.com—Rapat Senat Terbuka Luar Biasa dengan agenda wisuda 638 sarjana Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) St. Paulus Ruteng dilangsungkan di Aula Asumpta Katedral Ruteng, Sabtu 1 Oktober 2016.

Mengangkat tema “Mentransformasi kekerasan, menghadirkan perdamaian dan mencegah radikalisme” acara wisuda dibuka Ketua STKIP, Yohanes Servatius Boy Lon. Turut memberi sambutan Wakil Bupati Manggarai Viktor Madur serta Koordinator Kopertis Wilayah VIII Denpasar I.Nengah Dasi Astawa.

Dari total 638 wisudawan, terdapat 21 orang meraih cumlaude dengan rincian,dari Program Guru Sekolah Dasar (PGSD) 13 orang, Bahasa Inggris 3 orang, dan Pendidikan Teologi 5 orang.

Ketua STKIP, Yohanes Servatius Boy Lon menerangkan, nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi diraih Stefanus Vianey dengan IPK 3,82 dari program PGSD. Disusul Aurelia Ratuanak dengan IPK 3.81( Program Pendidikan Teologi). Selanjutnya IPK 3,70 diperoleh Hedwig Pahul (Program Bahasa Inggris) dan Maria Imul (PGSD).

Wakil Bupati Kabupaten Manggarai Viktor Madur, dalam Sekapur Sirihnya mengatakan acara wisuda bukanlah akhir dari perjuangan pasca kuliah formal melainkan awal dari kuliah-kuliah kemasyarakatan.

“ Setelah diwisuda anda sekalian akan berbaur dengan masyarakat. Lakukan hal yang berharga dan bermanfaat. Prilaku anda di tengah masyarakat harus mencerminkan  kalian sebagai kaum intelek,” Kata Wabup Viktor.

Terkait Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam bidang pendidikan yang demokratis, bermutu dan akuntabel, Viktor Madur mengajak civitas akademika STKIP St.Paulus Ruteng untuk berkontribusi dalam upaya pemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi.

“ Satu sisi ilimu pengetahuan dan tehnologi membuat manusia pintar secara intelegensi namun kadang kepintaran itu mengaburkan kecerdasan emosional dan spiritual ,” Imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Kopertis Wilayah VIII Denpasar I.Nengah Dasi Astawa mengingatkan para dosen yang mengajar di lembaga pendidikan tinggi yang eksis sejak tahun 1969 itu untuk lebih bersikap profesioanl dan dilarang mempersulit atau menyusahkan mahasiswa-mahasiswi.

“Lapor saya jika ada dosen yang kejam atau sewenang-wenang,” Ungkap Nengah.

I Nengah berpesan kepada wisudawan-wisudawati agar menjadi insan terdidik yang membanggakan orang tua dan bangsa.

“Kedepankan kemandirian. Jadi sarjana bukan untuk malas-malasan, kerja dan kerja. Jangan malah terus menyusahkan orang tua dan keluarga,” Pungkasnya. (js)