Ketika Kader Tanggalkan Baju Golkar Di Musda Manggarai

floressmart.com—Satu “kisah sedih” terjadi di dalam aula Efata Ruteng tempat Musyawarah Daerah (Musda ) pemilihan ketua Golkar, Jumat malam 9 Desember 2016.

Pimpinan rapat menganulir hak pilih Sekertaris pimpinan Golkar Kecamatan Rahong Utara, Marselinus Bebo,orang yang diundang resmi sebagai salah satu pemegang hak suara dalam Musda.

Gady Buli, yang memandu jalanya rapat menyatakan mencabut hak suara Golkar Rahong Utara dengan alasan kader yang diutus tidak dibekali dengan surat mandat dari Pimpinan Kecamatan.

“Hak saudara dicabut. Dalam aturan kalau Pimcat tidah hadir maka orang yang diutus harus menunjukan surat mandate dari Pimcat. Anda tidak punyai itu dan silahkan keluar,” Ucap Gady Buli.

Bertubi-tubi alasan dikemukakan Marsel. Ia mengungkapkan hadir di Musda karena  diundang Ketua DPD II, Simprosa Gandut menggantikan Pimpinan Golkar Kecamatan Rahut yang bertahun-tahun tinggal di Papua. Marsel mangatakan bahkan dirinya menjadi peserta pleno Pramusda.

Baca juga  Dewan Pers: Media Sosial Pengaruhi Eksistensi Media

Sayangnya argumentasi tak digubris pimpinan rapat. Marsel Bebo akhirnya berpindah tempat,ia  duduk berbaur dengan simpatisan Golkar. Marsel disingkirkan dari deretan para pemegang hak suara yang berjumlah 16 orang.

Pria yang bekerja sebagai Tata Usaha di SMA Negeri I Rahong Utara tampak tak kuasa menahan malu. Ia diusir dan dilucuti hak suaranya di depan umum.

Sejurus kemudian muncul kegaduhan. Pencabutan hak pilih itu menyulut protes dari peserta Musda lainya. Gony Obot salah satunya yang gigih melawan kesewenangan pimpinan sidang. Keributan bernada mengecam arogansi Gady Buli berlangsung lama hingga rapat di skors hingga satu jam.

Gony yang adalah lawan tunggal Osy Gandut dalam Musda ini angkat bicara. Ia mengatakan apa yang menimpa Marsel Bebo adalah hasil permufakatan jahat antara panitia rapat dengan calon ketua Simprosa Gandut.

Baca juga  Medah Buka Musda Golkar Manggarai

Ketua Golkar kecamatan Ruteng itu menuding hal yang terjadi pada Marsel Bebo merupakan skenario yang sengaja diciptakan di tempat pelaksanaan Musda.

“Pimpinan rapat dan Ketua DPD II bermufakat jahat untuk memenangkan pemilihan ketua dengan cara licik,”Seru Gony.

“Saya sudah memegang bukti bukti bahwa Ibu Osy (sapaan Simprosa) membagi-bagi uang kepada peserta Musda. Saya minta Musda ini dihentikan,”Sambung Gony Obot.

Setali tiga uang dengan Marsel Bebo, upaya Gony bak mencincang air. Kedigdayaan panitia Musda mementalkan segala bentuk protes.

Marsel maju lagi ke depan meja pimpinan rapat setelah diberi waktu untuk bicara. Ia mengatakan, dirinya menjadi kader Golkar pada tahun 2010 saat kepemimpinan almarhum Yakob Mut Naur. Di lingkaran keluarga Marsel Bebo, partai Golkar bak teman sejati.

Baca juga  Osy Gandut Kembali Pimpin Golkar, Yoakim Jehati Sekertaris

“Golkar di keluarga kami sudah turun temurun, dari kakek saya lalu bapak saya dan sekarang saya dan saudara-saudara saya. Saya ini kader warisan kakek saya dan bapak saya,” Bebo mengisahkan.

“Saya tidak bicara bagaimana keluarga kami berjasa membesarkan partai di wilayah Rahong Utara tapi saya mau bilang satu hal, pengurus Golkar hari ini sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Bapak-bapak ini mengusir saya secara keji,” Ungkapnya menambahkan.

Ini merupakan curahan hati terakhir Marsel bersama partai beringin. Ia “pamit” dan menyatakan hengkang dari Golkar.

“Saya tidak lagi bersama partai yang sangat saya cintai ini. Baju seragam ini saya kembalikan di sini di tempat ini,” Tutupnya.

Keadaan dalam ruang Musda yang tadinya gaduh menjadi hening. Tidak sedikit kader yang menetes air mata mendengar isi hati sang kader sejati. (js)

Tag: