Membangun Tanpa Merelokasi Tapi Dengan Metode “Menggeser Sedikit”

floressmart.com—Dalam debat kedua para paslon gubernur DKI Jakarta Jumat malam 27 Januari 2017, ada satu paslon dengan penuh semangat mengemukakan konsep membangun tanpa merelokasi tetapi dengan metode “menggeser sedikit”. Tetapi, seperti apa sih konsep membangun tanpa merelokasi tetapi dengan metode “menggeser sedikit” itu?

Suatu malam, seorang gelandangan bernama Romeo, sedang mencari tempat untuk tidur. Sepanjang hari tadi, Romeo memang sedang mengalami kesialan. Ia tidak mendapatkan makanan. Bahkan sepotong roti pun, untuk sekedar pengganjal perut pun, tidak bisa ia dapatkan.

Akhirnya, tibalah Romeo ke pinggiran Sungai Ciliwung, Jakarta. Malam itu, hujan gerimis, yang memang sudah berlangsung sejak pagi harinya. Menjelang imlek, Jakarta memang sering diguyur hujan. Romeo hanya bisa menutup tubuhnya dengan jaketnya yang sudah kumal dan berlubang-lubang.

Berusaha tidur lebih cepat malam itu, hanyalah sebuah cara Romeo untuk menghilangkan rasa laparnya. Namun, ketika ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba sebuah mobil Rolls Royce, yang dikemudikan seorang sopir, berhenti di depannya.

Dari dalam mobil itu, keluar seorang wanita muda dan cantik. Postur tubuhnya cukup ideal, seperti postur Tina Talisa yang menjadi moderator debat kedua paslon gubernur DKI Jakarta. Belakangan ia mengetahui wanita muda itu bernama Cerliana. Kecantikan Cerliana ini digambarkan Romeo dengan kata-kata: “nggoang keta molas’n – cama darat tanah masa” – kecantikannya bagai bidadari.

“Romeo yang malang, mungkinkah malam ini kau tidur di pinggir Sungai Ciliwung di tengah hujan gerimis ini?” tanya Cerliana. “Ya, mau kemana lagi? Sebagai gelandangan, di pinggir Sungai Ciliwung adalah tempat aku tidur”, jawab Romeo.

Baca juga  Tuliskan Pancadarma Disetiap Kiprah Menggugah Karya dalam Semangat Hardiknas

“Romeo, aku tidak ingin hal itu terjadi malam ini. Oleh karena itu, maukah kau mengikuti aku malam ini? Aku mau mengajakmu tidur di rumahku malam ini. Kau bisa makan malam di rumahku dengan hidangan lezat yang pasti sangat kau sukai. Sesudahnya kau bisa tidur di kamar tidur yang benar-benar empuk”, demikian ajakan Cerliana.

Hati Romeo berbunga-bunga mendengar ajakan Cerliana tersebut. Cerliana memegang tangan Romeo dan mengajaknya memasuki mobil mewahnya itu. Romeo malam itu diajak keliling kota Jakarta, dari mal ke mal, membiarkan Romeo berbelanja makanan apa saja yang disukainya, yang semuanya dibayar oleh Cerliana.

Selesai berbelanja, Romeo dan Cerliana dengan Rolls Royce-nya melaju ke pinggiran Jakarta. Rumah Cerliana memang terletak di sebuah sudut kota Jakarta, di sebuah kompleks perumahan yang sangat asri. Rumah berhalaman luas itu penuh dengan lampu berwarna-warni di semua sudut tamannya.

Pelayan rumah tangga di rumah itu, Tommy, begitu ramah menyambut si pemilik rumah, Cerliana dan Romeo tamunya itu. “Tommy, layanilah tamuku ini dengan hidangan makan malam yang paling enak. Kemudian, setelah Romeo makan malam, siapkan kamar tidur dengan kasur empuk baginya, karena malam ini ia tidur di sini”. Tommy dan pelayan-pelayan lainnya begitu sigap melaksanakan perintah majikannya.

Baca juga  Romantisme Politik Pilkada

Cerliana, wanita muda nan cantik itu bersiap-siap naik ke tempat tidurnya. Ia menggunakan pakaian tidur yang tipis, dan beberapa bagian tubuhnya tidak tertutup dengan sempurna. Namun, malamnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tiba-tiba ia teringat akan Romeo tamunya itu, jangan-jangan Romeo juga tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Cerliana pun dengan langkah yang pelan-pelan berjalan menuju kamar tidur yang ditempati Romeo. Dari tempat tidur yang ditempati Romeo itu terlihat dengan jelas seberkas cahaya melalui lubang jendela kamar tidur.

Cerliana mengetuk pintu kamar Romeo dengan halus. Dengan sigap, Romeo membuka pintu kamar. “Romeo, kau belum tidurkah? Mengapa kau masih terjaga juga? Apakah ada masalah? Apakah kamu tidak mendapatkan makan malam yang enak malam ini?”

“Nona Cerliana yang cantik, seumur hidup, saya belum pernah disuguhi makanan yang seenak yang aku rasakan di malam ini di sini”, kata Romeo dengan suara sangat lembut. “Tetapi, mengapa kamu belum juga tidur? Apakah kamu merasa cukup hangat di dalam kamar tidur ini?” tanya Cerliana sambil meremas-remas tangan Romeo.

“Nona Cerliana, jelas ranjang ini sangat hangat dan nyaman bagi saya”, kata Romeo, yang saat itu jantungnya sudah mulai berdegup kencang. Kemudian Cerliana berkata lagi: “Romeo, mungkinkah kau membutuhkan seorang wanita untuk menemani tidurmu pada malam ini?”. Romeo tidak ingin kesempatan itu terlewatkan dan langsung menganggukkan kepalanya.

Cerliana membisikkan kata-kata mesra ke telinga Romeo: “Aku ingin menemani tidurmu malam ini. Bergeserlah sedikit. Aku mau berbaring di sampingmu”. Romeo pun menggeser tubuhnya agar Cerliana si nona cantik itu bisa tidur di sampingnya.

Baca juga  Dianggap Merendahkan Bupati, Marsel Ahang Disomasi

Ketika tangan Romeo hendak memeluk tubuh wanita cantik itu, Cerliana bilang: pelukan yang mesra hanya akan terjadi kalau kamu mau menggeser sedikit tubuhmu. “Ayo, tolong geser sedikit dong’. Romeo pun menggeser lagi. “Ayo, tolong geser sedikit lagi dong”, bisik Cerliana dengan mesra. Tetapi begitu Romeo bergeser sedikit, ia jatuh sampai ke dasar Sungai Ciliwung.

Romeo baru sadar, ternyata sepanjang malam tadi ia tetap berada di pinggir Sungai Ciliwung dan bahkan terjerembab ke dalam sungai saat ia “menggeser tubuhnya” … menggeser sedikit, …. menggeser sedikit …..

Ha ha ha…. tentu para pembaca yang terhormat tidak ingin cerita ini berakhir tragis seperti ini, bukan?

Sobat, bila kita sudah siap untuk menggantikan ilusi kita dengan realitas, dan bila kita sudah siap untuk menggantikan mimpi kita dengan kenyataan, itulah cara kita untuk menemukan pencerahan. Dengan demikian, hidup kita pada akhirnya menjadi penuh arti. Hidup menjadi indah.

***** Cerita imajinatif di atas saya buat sambil menonton debat kedua paslon Gubernur DKI Jakarta melalui TV, terinspirasi oleh tulisan Anthony de Mello berjudul: “Ilusi Mengenai Orang Lain” yg termuat dalam bukunya yang berjudul ‘Awareness’, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011, h. 48-54.