Peter Agung: Pentingnya Manajemen Diri Bagi Calon Mahasiswa

floressmart.com— Berbicara mengenai manajemen diri berarti berbicara tentang bagaimana kita mengatur pola kehidupan kita, entah itu dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan sebagainya.

Manajemen diri sangat dibutuhkan oleh seseorang, terutama para generasi muda yang merupakan tumpuan harapan bangsa. Manajemen diri dapat menentukan kesuksesan seseorang dalam melakukan usaha untuk membangun dirinya.

Adalah Petrus G.Agung seorang putra Manggarai yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali yang sudah merasakan buah manis dari manajemen diri yang dilakukanya.

Bungsu dari empat bersaudara pasangan bapak Benyamin Nasor dan ibu Natalia Din ini pada awalnya sama sekali tidak memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikanya dalam dunia kedokteran.

Pasca menuntaskan pendidikan manengah atasnya di SMAK St.Fransiskus Xaverius Ruteng, pria kelahiran Pateng, 5 Juli 1993 ini berniat ingin mengambil jurusan akuntansi karena pada saat itu ia merasa mampu untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan tersebut. Alhasil pada tahun 2011 Peter mengikuti tes SNMPTN di Yogyakarta dengan jurusan yang dipilih kala itu adalah IPC dan Akuntansi.

Nampaknya dewi fortuna belum berada di pihak Peter saat itu. Ia dinyatakan tidak lulus dalam tes ini. Namun hal ini tidak mematahkan semangat Peter untuk terus berjuang.

Peter menyadari kegagalannya kali ini akibat kurangnya persiapan dan informasi yang diperolehnya terkait SNMPTN. Kegagalannya kali ini memotivasi dirinya untuk memanajemen dirinya lebih baik lagi serta untuk mempersiapkan tes berikutnya di tahun 2012.

Baca juga  Diminta Klarifikasi Soal Pelanggaran Etika, Marsel Ahang Malah Sesumbar Bikin PKS Tenar

Waktu satu tahun yang dimiliki oleh Peter dimaksimalkan untuk mengikuti bimbingan belajar di salah satu lembaga di Yogyakarta dalam rangka mempersiapkan diri untuk tes SNMPTN di tahun 2012.

Setahun berlalu dan akhirnya Peter kembali mengikuti tes yang sama dan kali ini dia masih menempatkan Akuntansi di pilihan utama serta kedokteran di pilihan kedua.

Tanpa disangka Peter dinyatakan lulus dan diterima sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Udayana dan menjadikanya sebagai satu-satunya orang Manggarai yang masuk ke Fakultas Kedokteran Di Udayana Bali.

Walaupun awalnya agak kecewa karena masih belum bisa masuk ke jurusan akuntansi serta kekawatiran akan biaya kuliah yang besar untuk menjadi seorang dokter, tetapi Peter optimis dan penuh keyakinan menjalani apa yang sudah diraihnya.

Ternyata biaya kuliah Peter di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali tidak sebesar apa yang diceritakan dan diinformasikan oleh orang-orang.

Menurut Peter biaya kuliah kedokteran di Udayana masih terjangkau oleh masyarakat dengan tingkatan ekonomi menengah kebawah. Apalagi ditambah dengan sistem UKT berdasarkan golongan yang ditambah dengan beberapa beasiswa.

Hingga saat ini Peter tercatat sebagai penerima beasiswa PPA dari pihak kampus. Satu-satunya kesulitan yang dihadapi Peter selama kuliah adalah adaptasi dan rasa minder.

Saat ini Peter tengah menjalani koasnya di RSUD Sanglah, Denpasar, dan apabila tidak ada halangan yang merintang Peter akan resmi menjadi dokter di bulan Desember 2017.

Baca juga  Bongkar Mitos 'Nomor' Politik Di NTT

Ini merupakan buah manis perjuangan Peter yang dengan rendah hati menjalani setiap suka duka selama perkuliahan.

Motivasi

Berangkat dari apa yang dialaminya, Peter memberikan beberapa poin penting yang dapat menjadi motivasi calon mahasiswa dari Manggarai terkait memanajemen diri.

Pertama, bahwa calon mahasiswa terlebih dahulu harus mengetahui potensi apa yang ada dalam dirinya dan bagaimana cara mengembangkan potensi tersebut.

Setelah mengetahui tentang potensi yang dimiliki, buatlah perencanaan dan persiapan untuk menentukan jurusan yang kita pilih selanjutnya.

“Jangan pernah memilih jurusan hanya karena mengikuti teman, murah, atau jurusan yang dianggap gampang. Pilihlah jurusan yang nantinya dapat menjanjikan bagi kehidupan di masa mendatang,” Cetusnya saat diwawancarai baru-baru ini.

Kedua, ketika calon mahasiswa memutuskan untuk menempuh pendidikan di luar Manggarai sebisa mungkin untuk meninggalkan egonya.

“Di daerah orang kita akan dihadapkan pada perbedaan budaya dan persepsi. Keadaan ini akan membuat kita menjadi minder yang berakibat pada kurangnya semangat juang dalam belajar,”Ujar Peter.

Hal yang harus kita lakukan, kata Peter adalah berusaha berbaur dengan memanfaatkan berbagai wadah seperti organisasi-organisasi mahasiwa, olahraga, maupun komunitas lainnya.

Ketiga, calon mahasiswa harus bisa bersikap selektif dalam segala hal, terutama dalam memilih teman bergaul.

“Kita harus bisa membedakan mana teman yang bisa mendukung kita dalam menjalani tujuan kita selama kuliah dan mana teman yang bisa membawa kita pada hal-hal negatif. Apabila kita salah dalam memilih pergaulan, maka kita akan gagal untuk usaha kedepanya,”Ia menekankan.

Baca juga  Politik yang Memenangkan Rakyat NTT

Keempat, jangan pernah malu dan takut untuk bertanya dan mencari informasi. Informasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa. Informasi apapun itu pasti sangat berguna untuk mahasiswa.

Selain motivasi untuk calon mahasiswa, Peter juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk para orang tua di Manggarai yang masih memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Ini merupakan hal yang sangat positif yang dimiliki masyarakat Manggarai.

Bagi orang tua Manggarai keadaan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang untuk memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anak-anak mereka. Sekarang tinggal bagaimana motivasi dari para orang tua dalam mendukung dan memberi pemahaman pada anak-anak mereka.

Pada bagian akhir sekali lagi Peter menegaskan bahwa manajemen diri itu sangat penting dilakukan oleh generasi muda Manggarai.

“Generasi muda Manggarai memiliki potensi yang sangat besar bahkan jauh lebih baik dibanding anak-anak dari kota-kota besar. Sangat disayangkan jika potensi sebesar ini tidak dikembangkan. Dan jangan pernah menganggap kuliah itu sebagai beban,” Ujarnya memberi dorongan.

Selain itu, Peter menegaskan bahwa dalam perkuliahan tidak ada jurusan yang lebih superior atau istimewa. Semua jurusan itu sama baiknya. Pada zaman modern seperti sekarang, jurusan tidak menentukan keberhasilan seseorang. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan dari individu sesuai dengan tuntutan zaman.

Laporan Addy Faran/ Denpasar-Bali