Kenapa Pasar Rakyat Ruteng Sepi?

floressmart.com—Sudah dua bulan Pasar Rakyat Ruteng difungsikan namun masih banyak kios di dalamnya yang masih tutup. Ada apa?

Pantauan floressmart.com, ketika menyambangi tempat itu, Senin 17 April 2017 mendapati pasar yang berada di jantung kota ini memang dalam keadaan lengang.

Dari 50 kios yang ada baru sekitar 25 stan yang berjualan, lainya masih tutup. Seperti 10 deret kios di los belakang tak satupun yang buka. Hal serupa juga terjadi pada jalur tengah, hanya empat kios yang terlihat berjualan.

Salah seorang pedagang di pasar yang terletak di Kelurahan Mbau Muku itu menuturkan bahwa kios-kios yang tutup itu memang tidak pernah buka sejak pasar ini difungsikan awal Pebruari 2017.

Baca juga  Andri Garu : Lucu Kalau Gubernur Lawan Perintah Mendagri

“Ini yang jadi soal, pasar sepi karena hampir setengah jumlah kiosnya belum juga dibuka, jelas saja masyarakat enggan kemari,” Kata pria itu sembari meminta agar namanya tidak dimediakan.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika kondisi ini dibiarkan maka berdampak buruk bagi pedagang lainya. Untuk itu ia meminta agar pemerintah daerah segera menindaklanjuti hal tersebut.

Apalagi hal itu kata dia, telah disepakati bersama saat penandatanganan sewa kontrak awal Maret lalu. Salah satu poin yang disepakati yakni pemerintah akan membatalkan kontrak untuk kios-kios yang hingga akhir Maret 2017 belum berjualan.

Baca juga  Pembongkaran Puluhan Rumah di Pasar Puni Ruteng Mendapat Perlawanan Warga

“Begitu kesepakatanya,dan sudah disetujui semuanya. Tapi ini sudah pertengahan April namun hal itu belum dilaksanakan,”Ucapnya.

Menurutnya, kios-kios yang belum berjualan ini sebaiknya ditarik kembali dan diundi ulang.

“Kan masih banyak masyarakat yang mau cari makan tapi tak punya tempat jualan apalagi yang strategis macam ini. Lebih baik kios-kios yang masih kosong diundi lagi kepada yang benar-benar mau berjualan pak,”Sambungnya.

 

Jual beli kios

 

Praktik jual beli kios di pasar modern ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di lingkungan pasar. Disebutkan, tidak sedikit orang yang telah teken kontrak justru menyewakan kiosnya ke pihak lain dengan harga berkalikali lipat.

“Beberapa orang sudah jadi buah bibir, karena menjual kiosnya ke pedagang dari Jawa dan Minang dengan harga tinggi. Tidak heran jika pedagang di sini memiliki lebih dari satu kios. Itu tadi diperoleh dari mereka yang jual stan,”Imbuhnya.

Baca juga  Sengketa Tanah Di Desa Beo Rahong Dimediasi Pemda

Terkait kios-kios yang tak kunjung beroperasi kata pria tadi, bisa jadi salah satu modus cari untung.

“Kita duganya begitu, mereka ajukan permohonan dan lolos undi hanya embel-embel saja, memang niatnya mau dijual lagi kok,”Ucapnya.

Badan Keuangan Daerah, instansi yang ditugasi mengelola Pasar Rakyat menetapkan nilai kontrak sesuai ukuran kios. Untuk ukuran 3×3 meter seharga Rp 2,5 juta per tahun sementara ukuran 4×5  dibandrol Rp 5 juta rupiah per tahun. (js)

Beri rating artikel ini!
Tag: