Belajar dari Bupati Manggarai

“Belajar dari Manggarai…”. Itu pernyataan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran di media Malakanews.com (13/6/2017),  soal harmoni kepemimpinan politik.  Pernyataan itu diungkapkan untuk mengapresiasi kepemimpinan Christian Rotok dan Kamelus Deno (Paket Credo) yang senantiasa bersama dua periode (2005-2010/2010-2015) sebagai bupati dan wakil bupati Manggarai.

Dua periode kepemimpinan bersama berarti ada loyalitas dan saling paham. Loyalitas itu selalu mengandaikan kualitas personal yang setia dalam segala perkara. Dua pikiran yang berbeda pasti menyisahkan mufakat. Sikap saling paham dan mendengarkan menjadi rumus “dua periode” dalam memimpin masyarakat Kabupaten Manggarai.

Tanpa kesepahaman dan mendengarkan, tidak akan ada “dua periode” Paket Credo. ‘Matahari kembar” kepemimpinan selalu dimulai dari rendahnya sikap saling paham dan saling dengar. Ego kuasa dan gengsi politk menjadi “bibit hibrida” pembelahan politik kepemimpinan. Dari situlah efektivitas pemerintahan mulai kendor sebab saling curiga dan saling potong menjadi menu utama pola kepemimpinan.

Tampaknya, Christian Rotok dan Kamelus tidak demikian. Dengan begitu Paket Credo bisa bertahan selama dua periode, dan dilanjutkan dengan kepemimnan Kamelus Deno dan Victor Madur (Paket DM). Kepemimpinan Paket DM dapat diartikan sebagai lanjutan kepemimpinan Credo dengan sedikit perubahan style dalam memimpinan. Tentu, style kepemimpnan disangat dipengaruhi kualitas mental dan intelektual pemimpin.

Maka tidak ada salahnya juga jika bupati Malaka Stefanus Bria Seran mengatakan “belajar dari bupati Manggarai”. Warisan seoarang bupati adalah kebijaksanaannya dalam memimpin seraya memberikan segenap kemampuan terbaik demi kesejahteraan masyarakat Manggarai. Hal itu ditandai dengan pembangunan yang merata dan kesejahateraan yang adil.

Baca juga  Marthen Dira Tome dan Resep “NTT Satu”

Warisan seorang bupati juga ada pada persiapan kader pemimpin (the best people). Bupati mesti memilih dan mendukung seorang kader yang dianggap pantas menjadi pemimpin. Kader yang ia pilih tentu seorang yang dekat dan memiliki visi dan misi yang persis dalam meningkatkan kesejateraan masyarakat. Kader adalah ia yang berani melanjutkan visi dan misi pembangunan.

Ketika Kamelus Deno dan Victor Madur berani melanjutkan kepemimpinan Christian Rotok, mantan Bupati Christian Rotok pasti merasa berbangga. Dukungannya Christian Rotok terhadap Paket DM sangat berarti dalam proses keterpilihan Kamelus Deno dan Victor Madur dalam Pilkada Manggarai 2015. Signifikansi dukungan Christian Rotok tentu diukur kualitas kepemimpinan dan pribadinya yang mendapat apresiasi masyarakat Manggarai kala itu.

Dukungan Christian Rotok kepada Paket DM juga menandakan ia tidak sedang mengalami sindrom pasca berkuasa (post power syndrome). Bupati atau pemimpin yang mengidap post power syndrome  ditandai dengan sikap selalu merasa diri berkuasa meskipun tidak lagi memiliki jabatan. Ia biasanya tak ingin wakil bupatinya menjadi bupati atau berkuasa darinya. Pada pemimpin yang seperti ini, lama berkuasa membuatnya lupa diri dan bahkan “lupa ingatan”.

Christian Rotok sudah tepat mendukung kepemimpinan Kamelus Deno dan Victor Madur. Sebab dengan begitu, bupati Kamelus Deno dan Victor Madur dapat melindungi dan melanjutkan program-program Credo I dan II, sembari juga melindungi pribadi mantan bupati Christian Rotok dari berbagai soal yang disangkakan dan berbagai manuver character assassination.

Christian Rotok patut merasa beruntung mendukung Kamelus Deno dan Victor Madur. Dalam perspektif politik, beruntung berarti kiprah politik Christian Rotok pun akan mendapat dukungan penuh dari bupati dan wakil bupati Manggarai itu. Selain itu, beruntung berarti Christian Rotok adalah seorang pemimpin otentik. Pemimpin otentik selalu menciptakan kader pemimpin dan tidak ingat dirinya sendiri. Dengan kata lain, virtue seorang pemimpin ada pada sikap politiknya dalam menyiapkan kader.

Baca juga  Balada Persematim Di ETMC 2017

Bagi Kamelus Deno, menjadi wakil bupati Manggarai selama dua periode merupakan “sekolah” menjadi bupati. Dengan perannya sebagai wakil bupati, ia belajar mengelola konflik dan membuat keputusan bijak untuk bersama membangun Manggarai. sebagai wakil bupati, Kamelus Deno pasti belajar dan sangat paham kelebihan dan kekurangan pemerintahan Credo I dan Credo II. Dengan begitu, ia akan mudah melanjutkan dan memperbaiki sisi kelemahan pemerintah ketika ia menjadi pemimpin (bupati Manggarai).

Lantas, apakah kepemimpinan Kamelus Deno pasca Christian Rotok merupakan suatu perangkat dinasti politik? Penilaian dinastik pada kepemimpinan Kamelus Deno (dan Victor Madur) merupakan kegagapan cara berpikir politik publik. Sebagai pemimpin kala itu, Christian Rotok hanya menciptakan dan memilih kader, tetapi mayoritas pemilih Manggarai yang menentukan.

Baca juga  Pemuda Menggagas (Kembali) Kesenian Lokal

Christian Rotok tidak memilih keluarganya, besan, ipar, adik/kakak atau turunan genealogis lainnya, untuk didukung  jadi pemimpin di Manggarai. Ia hanya menyiapkan the best people untuk jadi pemimpin yang amanah bagi masyarakat Manggarai. Christian Rotok sangat menghindari politik dinasti, sebab dinasti berarti pelanggengan kekuasaan melalui dan dalam satu turunan genealogis (jalur keluarga).

Kepemimpinan Kamelus Deno pasca Christian Rotok bukanlah kepemimpinan disnati, sebab Kamelus Deno (dan Victor Madur) dipilih melalui proses politik yang demoratis (Pilkada 2015). Pemimpin yang lahir dari proses politik yang demokratis mendapat legitimasi dari masyarakat.

Pasca Christian Rotok, Manggarai akan semakin lebih baik. Sebab, matahari kepemimpinan Kamelus Deno dan Victor Madur akan menerangi setiap sisi gelap pembangunan seraya melanjutkan kebijakan yang bernas dalam pembangunan untuk semua masyarakat Manggarai.

Akhirnya, mari belajar dari bupati Manggarai. Juga, mari mengapresiasi bupati Malaka Stefanus Bria Seran yang mau belajar dari bupati lain. Seorang pemimpin tidak muncul tiba-tiba; ia lahir dari proses belajar yang panjang. “A leader is the one, who knows the way, goes the way and show the way”, tulis John Calvin Maxwell. Jelas, semua itu bermula dari proses belajar, bukan muncul tiba-tiba.

Alfred Tuname

Direktur Lembaga Neralino (Network On Reform Action For The Well-being Of Indonesia), tinggal di Borong, Manggarai Timur.

Beri rating artikel ini!
Tag: