Festival “ Robek Manik Laing” Cara Menjual Wisata Pantura

Salah satu destinasi yang lagi hits di wilayah utara Kabupaten Manggarai Flores adalah Pantai Ketebe di Desa Robek Kecamatan Reok. Pantai indah berpasir putih ini berada pada jalur utara trans Flores yang menghubungkan kabupaten Manggarai dengan Manggarai Barat sebagai gerbang pariwisata Flores saat ini.

Lingkungan  Pantai Ketebe rimbun oleh nyiur yang tumbuh sepanjang garis pantai. Sangat gampang mendapat kelapa muda segar di sini, tinggal pesan, lalu pemilik kelapa memetiknya untuk anda.  Selain indah dan bersih, pantai Ketebe juga menghadirkan panorama sunset yang super pada senja hari.

Banyak orang terpikat dengan pesona pantai pasir putih yang panjangnya mencapai satu kilo meter  ini. Tingkat kunjungan ke Ketebe merangkak naik dari waktu ke waktu. Pantai yang berdekatan dengan kampung Gincu ini kian diminati baik oleh warga Kecamatan Reok dan Reo Barat juga wisatawan dari Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai serta pengunjung dari pesisir utara Manggarai Timur.

Baca juga  HUT Sumpah Pemuda,1000 Bendera Bakal Dikibarkan di Sawah Lodok

Penduduk sekitar pantai Ketebe pandai menenun. Maklum, mayoritas warganya berasal dari Loce dan Ruis yang tersohor dengan corak tenunan songket yang khas. Desa Robek juga kaya akan hasil bumi yang bisa diolah menjadi jajanan yang bisa dijual di lingkungan pantai Ketebe. Sayangnya, warga di sana belum mampu memanfaatkan potensi yang ada menjadi sumber ekonomi baru.

Berangkat dari potensi lokal yang luar biasa, puluhan mahasiswa UGM yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Robek merintis cara menjadikan Pantai Ketebe sebagai sumber pendapatan untuk warga sekitar.

Masyarakat setempat sebagai motor penggerak wisata disemangatkan melalui optimalisasi potensi lokal untuk selanjutnya bisa dipromosi di dalam obyek wisata pantai Ketebe.

Berdasarkan hal tersebut, KKN- Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Unit 17 NTT-02 Universitas Gadjah Mada bersama warga Desa Robek berinisiasi untuk membangun pariwisata melalui sebuah festival yang bernama “ROBEK MANIK LAING” yang telah dilaksanakan selama dua minggu dari tanggal 15 Juli 2017 hingga 29 Juli 2017.

Pemukulan Gong festival “Manik Laing” oleh Staf Ahli Bupati Manggarai di Pantai Ketebe, Minggu 30 Juli 2017.

“ROBEK MANIK LAING”

Baca juga  Kampung Ruteng Pu'u Berbenah, Warga Diminta Makin Tertib

Festival ini diawali dengan kegiatan senam massal, dilanjutkan hari-hari berikutnya dengan berbagai lomba olahraga, kegiatan susur dan bersih pantai, lomba memasak panganan lokal, dan lomba hias sampan.

Rangkaian festival diakhiri dengan pesta akbar yang diselenggarakan pada 30 Juli 2017 di Pantai Pasir Putih Ketebe dengan beragam kegiatan mulai dari pawai desa, lomba goyang ria, pameran songket tenun asli Robek, stand-stand produk olahan asli Desa Robek, dan parade sampan nelayan.

Ditampilkan pula berbagai macam tarian adat Manggarai baik oleh warga Desa Robek maupun mahasiswi UGM. Selain diramaikan oleh masyarakat luas, acara ini dihadiri juga oleh Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Yos Nono, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Sensi Gatas, Staf Dinas Pariwisata, Staf Bagian Umum Sekretaris Daerah, dan Camat Reok, Kanis Tonga.

Tarian Congka Sae dibawakan oleh Mahasiswa KKN-PP UGM dalam acara puncak festival “Robek Manik Laing”, Minggu 30 Juli 2017.

“ROBEK MANIK LAING sebagai persembahan terakhir dari tim KKN UGM unit 17T-NTT-02 untuk pariwisata Desa Robek dan juga sebagai pemantik bagi masyarakat untuk tetap optimis mengembangkan sektor pariwisata disana,” kata Ketua Panitia Festival Robek manik Laing, Wahyu Aziz Nugroho, disela-sela festival, Minggu 31 Juli 2017.

Baca juga  Ruteng Bertaburan Pesta Sambut Baru

“Diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya festival ini tetap dapat dilaksanakan di Desa Robek guna menarik sebanyak-banyaknya wisatawan. Pada akhirnya memberikan dorongan bagi perkembangan pariwisata di Desa Robek, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat guna turut andil dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di level mikro,” tambah Wahyu.

Disaksikan media ini, sejumlah atraksi budaya dipentaskan dalam festival “Robek Manik Laing” diantaranya, ketangkasan Pancung Alu, Tarian Tekur Pantar, Tarian Petik Mente serta Tari Congka Sae yang dibawakan oleh peserta KKN-PPM UGM.

Sejumlah kelompok tenunan Songket menjajalkan selendang, wiron dan kain songket di stan kain tenun. Seorang penenun dilengkapi dengan alat tenun tradisonal memperlihatkan cara menenun kain songket khas Desa Robek. (js)

Tag: