Marianus Sae dan Persematim Manggarai Timur

Oleh : Alfred Tuname

Masyarakat seantero Flores membicara Bupati Ngada Marianus Sae, bukan lantaran sikapnya yang kontroversial, melain karena sikapnya uniknya yang membela masyarakat dan kaum muda Ngada. Marianus Sae selalu tampil di depan untuk membela rakyatnya, kaum mudanya.

Bukti pembelaan itu adalah ketika bupati Ngada menolak memberikan dana dalam penyelenggaraan event Tour de Flores (TdF) 2017. Jelas, Marianus Sae tidak ingin rakyatnya dibodohi oleh event yang berwajah korporasi itu. Ia sedang menyelematkan generasi muda Ngada dari ketertundukan pada cengkraman korporasi yang berlidung dalam muslihat olahraga event TdF.

Marianus Sae lebih mendukung event olahraga yang mengharumkan nama Ngada dan memupuk karakter dan mental tanding generasi muda Ngada. Sepak bola adalah salah olahraga yang bisa mengharumkan Ngada sampai di tingkat nasional. PSN (Persatuan Sepak Bola Ngada) Kabupaten Ngada, bahkan, telah membawa nama NTT di ajang sepak bola nasional sebagai runer up Liga Nusantara 2016. Hal itu membuktikan prestasi generasi muda Ngada sekaligus karakter generasi muda Ngada.

Untuk semua itu, Marianus Sae berada di garis depan untuk mendukung. Dalam filosofi perang, pemimpin selalu menginjakan kaki pertama di tanah perang, dan mengangkat kaki terakhir ketika pulang. Itulah pemimpin. Dalam kepemimpinannya, bupati Ngada itu mendukung untuk masyarakat yang berprestasi.

Bahkan untuk El Tari Memorial Cup 2017, bupati Ngada Marianus Sae tidak tanggung-tangung mendukung kesebelasan PSN Ngada berlaga di Ende. Tidak hanya dana, tetapi tenaga ia curahkan untuk gengsi dan prestasi anak-anak muda Ngada.

Baca juga  Prototipe Kartini Dan Perempuan Masa Kini

Marianus Sae mengendari motor trail memimpin rombongan superter PSN Ngada berangkat dari menuju Ende demi sebuah prestasi dan kebanggaan. Masyarakat Ngada dan ratusan pegawai SKPD Ngada lesat berangkat menujur lapangan Marilonga, Ende, mendukung perjuangan pemain PSN Ngada.

Hasilnya cukup memuaskan. Kemenagan demi kemenangan diraih oleh kesebelasan PSN Ngada. Mental juara dan didukung oleh doa, dana dan semangat masyarakat pasti membuahkan kemenangan gemilang. Di belakang Marianus Sae, masyarakat Ngada (bahkan masyarakat Flores) membicarakan prestasi, gengsi dan determinasi PSN Ngada di El Tari Memori Cup 2017, Ende.

Di Manggarai Timur (Matim), orang membicarakan PSN Ngada. Bukan soal “fanatisme”, malainkan soal prestasi demi prestasi anak-anak muda Ngada itu. berbicara PSN Ngada, mereka tak luput membicarakan Marianus Sae. bahkan suatu ketika di Leko Lembo, Walengga, Matim, masyarakat bercerita dengan bangga permainan motor trail bupati Ngada di padang Waewole, Waelengga.

Meskipun itu, di hati kecil masyarakat Matim ada perbincangkan kecil soal kiprah Pesematim (Persatuan Sepabola Manggarai Timur) Kabupaten Manggarai Timur. Tak ada antusiasme, selain kebanggaan kecil El Tari Memorial Cup 2009, Ngada, Persematim meraih runer up  dan runer up Piala Gubernur NTT 2016 di Kupang.

Baca juga  Jalan Terjal Politik Orang Muda

Sejatinya, Persematim masih “dianggap” dan jadi tim “kuda hitam” dalam ajang El Tari Memorial Cup 2017. Kekuatan kesebelasan Persematim masih terngiang. Akan tetapi kekalahan demi kekalahan membuat Persematim terpojok di sudut stadion. Mungkin saja teriakan sorai penonton dan pendukung fanatik Persematim kian melorot dan hilang terbawa angin.

Anak-anak muda Persematim tak bisa disalahkan. Itulah dunia bola. “Football is changing and changing fast”, demikian tulis Adam Brown bukunya berjudul Fanatics! Power, Identity and Fandom in Football (1998). Sepak bola selalu berubah. Tak ada yang bisa mengontrol si kulit bundar.

Anak-anak muda Persematim sudah berbuat lebih dari cukup. Mereka bermain untuk menang di El Tari Memorial Cup 2017, Ende. Meskipun tanpa dukungan dana dari Pemda Matim, mereka punya daya untuk tampil terbaik. Meskipun tak diantar dengan selebrasi budaya, Persematim berlaga dengan beradab.

Kehadiran anak-anak Muda Persematim di El Tari Memoriali Cup 2017, Ende, telah menyelamatkan generasi muda Matim di pentas olahlagi prestasi sepakbola NTT. Mereka adalah anak-kandung generasi sepakbola Matim yang lahir dari berbagai ajang sepakbola profesional, khususnya ajang PSSI tahunan Piala Bupati dan Piala Wakil Bupati di Kabupaten Manggarai. Merekalah yang terbaik dan tidak mau dikata hanya “jago kandang”.

Jika nanti mereka pulang tanpa piala dan gelar, mari kita sambut mereka sebagai selebrasi budaya dan semangat sportivitas. Tak perlu luntur fanatisme kita pada anak-anak muda berprestasi di sepakbola. Mereka berprestasi dalam mental dan karakter bertanding. Memang mereka kalah dalam pertandingan, tetapi Persematim sudah menang dalam perjuangan.

Baca juga  Ide Konyol Pemblokiran Telegram

Mereka sudah berjuang lebih, meski tak ada dana yang pasti. KONI Kabupaten Manggarai Timur belum mengalirkan dana untuk generasi sepakbola Matim, sebab Kepala Daerah Matim belum menandatangi Dana Hibah 2017. Hingga mendekati Anggaran Perubahan 2017, KONI-begitu juga KPA dan PMI Manggarai Timur, kecuali Pramuka Matim- belum menerima dana hibah 2017. Tak ada alasan jelas.

Meskipun  dana untuk generasi muda Manggarai Timur masih tertimbun di brankas Pemda Matim, semangat  dan karakter juang anak-anak muda tidak berkarat. Nasib Manggarai Timur tidak ditentukan oleh “ujung pena” yang tumpul nurani, tetapi oleh semangat juang kokoh dan kemauan untuk terus berprestasi (need for achievment istilah David McCelland).

Akhirnya, mari kita bersorak “salute!” buat Persematim. Pada mereka ada teladan; ada semangat berprestasi. Mereka sudah mulai dari apa yang ada, bukan seharusnya ada. Dukungan masyarakat Matim masih diperlukan. Publik Matim mungkin saja merindukan “Marianus Sae” ada di Matim, tetapi jika kita siap sepenuh hati mendukung Pesematim, maka sesungguhnya kita sudah sama bahkan lebih dari Marianus Sae, Bupati Ngada itu.)**

Alfred Tuname, penikmat Sepakbola, tinggal di Borong, Manggarai Timur

Beri rating artikel ini!
Tag: