Balada Persematim Di ETMC 2017

Kalo hanya mo barufuk bakalai, son usah tunggu sampe final
Penyair Mario Lawi, di akun facebook

Pergi tak diantar. Pulang tak dijemput. Itu nasib sedih tim Persatuan Sepak Bola Manggarai Timur (Persematim) di event El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017 di Ende.

Sore itu mereka berangkat dari Borong, Kabupaten Manggarai Timur, menuju kota Pancasila, Ende. Tak ada upacara pelepasan atau perutusan semacam “lalong bakok du lako, lalong rombeng du kole”. Tim Persematim pergi seakan tak resmi.

Ada 25 orang yang berangkat. Terdiri dari 17 (tujuh belas) orang pemain dan 8 (delapan) orang oficial. Dengan bus Pelita Mas, mereka tak bawa apa-apa selain semangat.

Membawa nama masyarakat Manggarai Timur di event sepak bola NTT ETMC 2017 adalah sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Kebanggaan sebab hanya 17 pemain itulah yang terpilih mewakili Manggarai Timur; tanggung jawab sebab mereka tidak hanya menampilkan skil terbaik tetapi juga memamerkan budaya Manggarai dan semangat sportivitas.

Tetapi untuk semua itu, para pemain Persematim nyaris tanpa persiapan matang. Para pemain tidak dikarantina sebelum pergi bertanding.

Biasanya, para pemain harus dikarantina demi menjaga kesehatan, kebugaran, ketangkasan dan kekompakan. Saat dikarantina, para pemain mengikuti latihan rutin, tetapi juga “digembleng” untuk menguatkan moral dan semangat pemain.

Para pemain Persematim, datang berlatih dari rumahnya masing-masing. Di lapangan latihan itulah latihan fisik dan semua penguatan moral dan semangat diberikan. Pelatih dan pengurus berjuang keras agar para pemain mengatur pola makannya sendiri dan menjaga kesehatan. Setelah itu, mereka yang siap diberangkatkan ke Ende.

Perjalan dari Borong ke Ende biasanya ditempuh dalam waktu kurang-lebih 5 (lima jam). Kecepatan bus Pelita Mas hanya pas-pas demi menjaga keselamatan tim Persematim. Bus berhenti di Watu Jaji, Kabupaten Ngada, dekat sebuah bengkel.

Baca juga  Membaca Populi Center di Pilgub NTT

Tim Persematim makan malam di situ, di pinggir jalan. Itu berarti bukan prasmanan atau buffet kata orang Prancis, tetapi nasi bungkus berisi nasi dan telur. Tim Persematim makan nasi telur di pinggir jalan.

Nasi telur semakin membulatkan tekad menuju Ende. Perjuangan memang mesti diselesaikan. Sekali melangkah maju, pantang untuk mundur selangkah. Tiba di Ende, Kota sedang remang. Kota Pahlawan Mari Longa itu sepi hanya sesekali terdengar pecahan ombak pantai Ende.

Tim Persematim mengontrak sebuah rumah di Jalan Kelimutu, sebuah rumah warga yang baru saja direhab. Rumah itu tanpa pintu dan jendela. Bayangkan kerumunan nyamuk dan binatang malam bermain di antara para pemain Persematim. Sementara dingin datang bagai hantu yang ingin mencabik-cabik kulit.

Meskipun begitu, spirit pahlawan Mari Longa seakan masuk dalam relung senubari dan tulang pemain. “Topo doga, ae bere iwa sele”: tanpa menyerah dan tak kenal lelah. Tim Persematim siap bertanding di stadion Marilonga, Ende.

Pertandingan perdana (Selasa, 25 Juli 2017) Persematim Manggarai Timur vs Perse Ende. Persematim kalah 1-5 dari Perse Ende. Persematim satu pool (Pool A) dengan Perse Ende, Persim Manggarai, Persamba Manggarai Barat dan Persab Belu. Dalam semuanya pertandingan, kekalahan mutlak harus ditelan dalam-dalam oleh kesebelasan Persematim; kalah 1-5 dari Persim Manggarai, 0-3 dari Persamba Manggarai Barat dan 0-6 dari Persab Belu.

Kekalahan itu persis seperti menelan asinnya ikan kering (ikan kanas kata orang Borong) yang menjadi menu sehari-sehari tim Persematim di Ende. Satu karung beras yang dibawa dari Borong tak cukup untuk makan sehari-sehari 25 orang tim Persematim di Ende. Kadang pengurus harus mengeluarkan sejumlah uang memberi 30 kg beras untuk makan bersama.

Baca juga  Marthen Dira Tome dan Resep “NTT Satu”

Sehari mereka tiga kali makan. Menu utamanya adalah nasi dan ikang kering. Menu lainnya adalah panganan yang terbuat dari pisang. Pemain “timnas” Manggarai Timur bakar pisang untuk menahan rasa lapar atau sekadar tambah stamina. Selebihnya dibuat pisang goreng (pigor) dan kue lokosari oleh seorang ibu rumah kontrakan yang baik hati.

Tak ada susu, bubur kacang ijo dan makanan penambah gizi lainnya untuk para pemain Persematim. Karena itulah skor kekalahan telah selalu diterima kesebelasan Persematim. Kadang semangat menang, harus kalah dengan stamina dan vitalitas pemain. Semacam nafsu besar, tenaga parah.

Sementara pengurus atau oficial Persematim harus “putar-otak” meminta dan memohon bantuan dana. Mungkin mereka tak sempat mengulik strategi dan taktik untuk bertanding. Jelas ada uang pribadi yang mesti ludes demi menyelamatkan nyawa para pemain Persematim dan nama baik Manggarai Timur di pentas sepak bola NTT.

Untunglah tak ada biaya transportasi antara kontrakan dan stadion Marilonga, sebab itu menjadi tanggung jawab pihak penyelengara ETMC 2017 Ende. Sehingga dana yang ada bisa untuk membayar kontrakan, lauk-pauk dan bayar kartu kuning dan merah serta transport PP Borong-Ende.

Tak etis bila publik menyinggung upah yang diterima para pekerja olahraga itu. Mungkin itu hanya akan menyinggung perasaan, semangat dan kerja keras tim Persematim. Mereka pasti memendam rasa kecewa. Tetapi demi olahraga sepakbola Manggarai Timur, mereka bertahan sejauh mereka bisa di ETMC 2017.

Baca juga  Belajar dari Bupati Manggarai

Jika publik paham atas semua pengorbanan dan keresahan tim Persematim di ETMC 2017, kekecawaan terhadap kekalahan kesebelasan Persematim dalam semua pertandingan tak pantas diutarakan kepada mereka. Sebab itu hanya menjadikan mereka sebagai korban yang dikorbankan lagi (victimize victim).

Persematim tak kalah dalam pertandingan, tetapi menang dalam daya juang. Persemtim butuh dukungan, bukan fitnahan. Meskipun miskin selebrasi, Persematim butuh apresiasi. Semua itu penting demi membagun kembali tapak-tapak champion di event-event yang akan datang.

Akan tetapi, le histoire se repete (sejarah akan berulang) bila saja seorang Kepala Daerah Manggarai Timur masih saja tidak menandatangi naskah dana hibah untuk KONI Manggarai Timur, yang biasanya (juga) menyumbang dana untuk Persematim dan PSSI Manggarai Timur. Semua susah dan kalah Persematim di ETMC berangkat dari persoalan dana tersebut.

Mungkin ada hikmahnya juga. Semacam blessing in disguise. Persematim tidak masuk final. Kalau saja masuk final versus Perse Ende, mungkin saja bentrok akan melibatkan oleh massa suporter Persematim, seperti final Perse Ende vs PSN Ngada di stadion Marilonga. Seujar dengan penyair Mario Lawi yang menulis komentar (facebook), dari pada nanti terjadi perkelahian lebih baik baik tidak usah masuk final.

Cerita Persematim masuk final ETMC 2017 tersebut hanyalah pengandaian yang tak mungkin dan obat penghibur hati. Mungkin sedikit memancing gelak tawa tim Persematim dan publik suporter fanatik.

Akhirnya, selamat datang kembali tim Persematim Manggarai Timur (maap tak ada acara penyambutan resmi/adat, seperti para bikers Tour de Flores). Bedai pasti berlalu; siap menang di masa datang!

Alfred Tuname
Penikmat Sepak Bola, asal Manggarai Timur

Beri rating artikel ini!
Tag: