Membaca Populi Center di Pilgub NTT

 

Lembaga survei Populi Center me-release hasil surveinya berkenaan dengan Pilgub NTT 2018 (Pos Kupang, 4/9/2017). Dari hasil tersebut, elektabilitas calon gubernur (cagub) Esthon Foenay menempati urutan tertinggi, yakni 20,3 persen.

Sebagai top of mind, tingkat elektabilitas Esthon mengalahkan Benny Kabur Harman (12,4) dan Ibrahim Agustinus Medah (11,9). Sementara itu, Christian Rotok (9,9) bersaing ketat dengan Raymundus Fernandes (8,5).

Elektabilitas Esthon-Christ sebagai cagub dan wagub dalam Pilgub NTT 2018 tersebut memantabkan langkah dua politisi tersebut untuk meraih dukungan simpati dan suara masyarakat NTT. Hasil survei Populi Center tersebut boleh jadi merupakan hadiah terindah atas kerja-kerja politik Paket Esthon-Christ dan tim kerjanya.

Paket Esthon-Christ telah bekerja cukup lama. Sejak meminang Christian Rotok pada 10 April 2016, Esthon Foenay terus melakukan konsolidasi politik di daratan Timor, Sumba, Rote dan Sabu. Sementara untuk daraan Flores, Christian Rotok yang akrab disapa CR membantu mendesign dan merambah kedekatan politik untuk Paket Esthon-Christ.

Kerja politik adalah kerja yang serius dalam nuansa dualitas “paket”. Artinya, kerja politik berjejaring paket pasangan calin menjadi kekuatan utama. Distribusi dan diseminasi sumber daya pada pasangan calon meringankan kerja politik paket politik.

Selian itu, komunikasi yang akrab dan sinergis para calon dalam satu paket menjamin keajegan politik. Bahwa dengan begitu, tak akan ada “matahari kembar” untuk sebuah kebijakan politik.

Baca juga  Musda “Poling SMS “ Partai Demokrat dan Antagonisme Politik

Hasil survei Populi Center juga secara tersirat terbaca sebagai “ratifikasi politik” atas keseriusan Paket Esthon-Christ dalam Pilgub NTT 2018. Ketika calon lain masih huru-hara mencari calon pasangan wakil atau gubernur, Paket Esthon-Christ gesit meracik strategi kemenangan politik. Ketika para calon baru men-design alat peraga kampanye, Paket Esthon-Christ sudah mendistribusikan alat peraga kampanye di seluruh tanah Flobamora.

Berbeda dengan Paket Esthon-Christ, cagub Benny Kabur Harman (BKH) masih berjibaku dengan urusan calon wagub. Akibatnya, isu-isu berkenaan dengan calon wagub BKH berdampak pada penilaian negatif terhadap politik BKH. BKH dianggap terlampau lamban dan bahkan tidak mampu memilih calon wagub.

Memang, pemilihan calon wagub bagi seorang calon gubernur bukanlah perkara mudah dan singkat. Perlu ada pertimbangan sumberdaya, riwayat politik, asal wilayah (dan bahkan agama) pada sang calon, selain soal kapabilitas dan integritas. Sayangnya, rumor calon wagub BKH masih terus terhembus, tanpa kepastian politik yang clara et distancta. Politik butuh kepastian dan mesti melampaui batas-batas lobi dan negosiasi politik yang alot.

Calon kuat lain seperti Agustinus Ibrahim Meda atau Iban harus terganjal persoalan partai politik. Partai Golkar lebih memilih Melki Lakalena ketimbang Iban yang merupakan kader yang telah lama membesarkan Partai Golkar. Dalam riwayat Pileg (Pemilu Legislatif), Iban bahkan selalu terganjal oleh hasrat politik Setya Novanto yang hendak selalu maju sebagai calon DPR RI dapil NTT 2 (Timor,Sumba, Rote dan Sabu).

Baca juga  Partisipasi “Simetris” Pemda dan Panwas Manggarai

Karena balas jasa politik tak setimpal dari partai Golkar, Iban harus pindah ke partai Hanura demi meloloskan niat politiknya dalam Pilgub NTT 2018. Sebagai cagub, Iban juga masih belum bisa menentukan calon wagub, sama halnya BKH.

Tanpa Iban, Melki Lakalena harus berjuang mendapatkan simpati kader-kader Golkar di daerah yang telah lama berakar dan “berkawan lama” dengan Iban. Sebagai politisi muda, Melki Lakalena tentu optimis. Kampanye pemimpin muda menjadi “tagline” politik politisi Golkar itu. Jika demikian, calon wagub Melki Lakalena pun mesti politisi muda. Sayangnya, puzzle politik calon wagub belum terbongkar.

Cagub BKH, Iban, Melki Lakalena masih sendirian “bermain” politik. Selain Esthon-Christ, komposisi paket politik cagub-cawagub belum ada. Sementara pendaftaran paket pada bulan Januari di KPU sudah dekat. Jika kondisi tersebut berlarut-larut, maka demokrasi politik NTT menjadi kurang elok. Sebab, masing-masing cagub akan terperangkap dalam pragmatisme politik dan menyelamatkan kepentingan dan gengsi politik. Yang muncul adalah paket “jadi-jadian” tanpa mempertimbangan kepentingan masyarakat NTT akan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas.

Selain karena pilihan politik cagub atau calon wagub, partai politik (parpol) juga memberi andil negatif terhadap penentuan paket politik dalam Pilgub NTT. Parpol terlampau bertele-tele dalam menentukan calon yang diusung. Memang kepentingan parpol adalah Pileg dan Pilpres 2019 sehingga penentuan calon pun menunggu hasil survei lembaga-lembaga survei.

Baca juga  Dituduh Lakukan Pungli, Ini penjelasan Osy Gandut

Akan tetapi, parpol mesti mempertimbangkan keutuhan “dualitas” paket cagub dan calon wagub. Keajegan sinergi dan komunikasi politik pasangan paket yang telah bekerja lama berpotensi serius memenangkan pertarugan politik.

Selain itu, parpol juga menetapkan cagubnya yang justru tidak populer bagi masyarakat NTT. Cagub tersebut berkarir di luar wilayah NTT dan hanya memiliki koneksi politik akrab dengan pimpinan DPP parpol.

Karena politik itu selalu dinamis, setiap parpol dan para kandidat berusaha melakukan berbagai manuver dan improvisasi politik. Tetapi, kejutan-kejutan politik ditentukan oleh masyarakat pemilih (voter). Sebagai subyek kekuasaan, masyrakatlah yang menentukan siapa yang menjadi pemenang dalam kontestasi politik. Kemenangan tidak saja berarti memegang kekuasaan politik, tetapi juga mengenal dan memenangkan hati dan simpati masyarakat.

Tentang itu, Winston Churchill pernah membuat pengakuan, “saya sesungguhnya tidak suka pemilu. Tetapi melalui berbagai pengalaman mengikutinya, saya belajar mengetahui dan menghormati orang-orang di kepulauan ini. Mereka baik, dan lagi-lagi baik”. Sesungguhnya, pengalaman itulah yang juga mesti menjadi kebanggaan para kandidat pada Pilgub NTT 2018.

Akhirnya, selain publik melihat secara kritis berbagai gejolak dan dinamika politik NTT, mari kita mulai mencari dan menemukan pilihan. Selanjutnya, “gereng one tanda”, kata orang Manggarai. Tunggu di hari H.

Alfred Tuname

Penulis dan esais         

 

Beri rating artikel ini!
Tag: