Muku Ca Pu’u Néka woléng Curup Téu Ca Ambo Néka Woléng Lako. Apa Maksudnya?

Berawal dari arti muku ca pu’u nèka wolèng curup (pisang serumpun jangan berbeda pendapat, seia sekata)-teu ca ambo nèka wolèng lako (tebu serumpun jangan berbeda langkah) bahwa, setiap orang memelihara dan melestarikan persatuan. Dalam persatuan setiap pribadi merasa diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan, ibarat pohon pisang yang hidup dalam satu rumpun.

Baca juga  Belajar dari Anggota Tubuh Membangun Iklim Sosio-Harmonis (Interprestasi Kontekstual IKOR: 12: 12-31)

Setiap warga klan/kampung berkewajiban untuk memelihara keharmonisan dan kebulatan dalam mencapai visi hidup bersama yang saling mendukung ibarat batang tebuh yang hidup serumpun (Mukese, 2012:121; Andur, 2004:1). Berada bersama orang lain disebut komunio sosial. Dari arti tersebut, dapat dikatakan, semangat atau roh ungkapan itu masih aktual di masa ini.

Baca juga  Ritus Teing Hang Empo dan Usaha Melawan Lupa

Artinya masyarakat lokal yang berbudaya berpijak pada budaya agar tercapainya nilai-nilai persatuan yang meretas di akar rumput. Nilai-nilai persatuan yang telah dibina pada masyarakat lokal adalah cikal bakal terwujudunya sikap solid, aman, tentram dan damai secara universal. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai persatuan antar masyarakat akan lebih baik, bila diawali di akar rumput.

Baca juga  Rindu yang Jadi Nyata? Tentang Impian Kekuasaan Orang Cibal di Manggarai

Masyarakat akar rumput, sebagai basis lahir dan menyebarnya sikap toleransi antar sesama. Misi yang menjanjikan, bila di semua tempat, masyarakat akar rumput diperkuat dengan nilai-nilai persatuan dengan mengangkat budaya masing-masing, maka, bukan tidak mungkin segala isu radikalisme dapat ditepis dengan kekuatan budaya dan Undang-Undang yang sudah melekat dalam diri setiap orang.

 

Tag: