Muku Ca Pu’u Néka woléng Curup Téu Ca Ambo Néka Woléng Lako. Apa Maksudnya?

Fenomena-fenomena tersebut harus sesegera mungkin ditemukan solusinya. Salah satunya adalah memperkuat masyarakat lokal sebagai akar rumput, membelajarkan masyarakat akan nilai-nilai kesatuan yang selaras dengan Undang-Undang. Oleh karena itu goét-goét sebagai kekayaan budaya Manggarai tidak sebatas pada pengucapan dan membukukan arti maknanya, tetapi harus menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari seluruh dimensi hidup untuk semua usia.

Sebab go’ét adalah roh yang menjiwai kebudayaan orang Manggarai, yang mengandung multi nilai demi terwujudnya kehidupan yang harmonis, sejahtera, bermoral, beriman dan berkosmis serta menggambarkan khasanah hati yang mendalam. Selain itu, agar go’ét tetap menjadi identitas orang Manggarai, sikap dan tindakan hidup terhadap alam harus dikendalikan dalam makna dan nilai luhur alam yang termakna dalam setiap ungkapan tersebut.

Baca juga  Pakaian adat yang berwibawa

Salah satu goét yang menanamkan nilai persatuan adalah muku ca pu’u néka woleng curup téu ca ambo néka woléng lako. Muku berarti pisang; pu’u adalah pohon atau serumpun; curup: pembicaraan atau tutur; lako: jalan atau berjalan, sedangkan téu adalah tebu; ca: artinya satu, satu kesatuan, kesatuan yang tidak terpisahkan (pungkul ca ratép); ambo adalah ikatan serumpun, yang tidak terpisah, tidak dipisahkan, tidak boleh berpisah-pisah; néka (kata yang berkonotasi larangan) artinya jangan, sedangkan woléng adalah beda, berbeda, lain, berlainan, tidak sama (néka woléng: kalimat yang menunjukkan jangan berpisah atau jangan berselisihan, tidak boleh ada persaingan negatif dalam kehidupan bersama dan mengakui orang lain sebagai bagian dari kehidupannya).

Baca juga  Kampung Ruteng Pu'u Berbenah, Warga Diminta Makin Tertib

Jadi secara etomologis go’ét muku ca pu’u néka woléng curup artinya pisang serumpun jangan berbeda pembicaraan atau pisang serumpun jangan berbeda tutur, pisang serumpun jangan berbeda pendapat; sedangkan go’ét téu ca ambo néka woléng lako artinya tebu serumpun jangan berbeda jalan atau tebu serumpun jangan cerai berai (Hemo, 1990: 224;bdk. Janggur, 2010: 135).

Dari segi pengertiannya ungkapan itu menggambarkan persatuan, kekompakkan, kesatuan gerak, kesatuan gagasan dan pandangan tentang kehidupan; anggota masyarakat atau keluarga diharapkan mempunyai pandangan yang sama terhadap kekompakan dan keutuhan, setiap pribadi harus menyadari, manfaat dan keutuhan kesatuan keluarga (Hemo, 1990:224).

Baca juga  Pemimpin Yang Peka Dan Prihatin Terhadap Realitas  

Sementara dari segi pesan, pesannya adalah (1) memelihara, membina dan meningkatkan persatuan, kesatuan, keutuhan dan kekompakan; (2) mengembangkan dan meningkatkan sikap dan prilaku yang mempunyai wawasan dan pandangan yang sama terhadap kehidupan keluarga dan masyarkat; (3) menjaga dan memelihara keharmonisan hidup keluarga dan masyarakat dalam kehidupan sosial; (4) mengembangkan sikap dan prilaku, satu kesatuan pikiran, bahasa, gerak langkah, tindakan dan pandangan yang sama tentang usaha manusia dalam membina kelangsungan hidup keluarga dan masyrakat (Hemo, 1990: 225).

Tag: