Demokrasi “Leko Leles”

Di Manggarai, istilah demokrasi dirapatkan dengan lonto leok. Lonto leok diartikan sebagai duduk bersama (biasanya melingkar) untuk mencapai kemufakatan. Dalam lonto leok, setiap orang mempunyai hak untuk berbicara dan mengemukakan pendapat. Lonto leok merupakan bentuk demokrasi orang.

Ketika merapatkan dasar nilai Pancasila, Soekarno merumuskan menjadi Ekasila, yakni gotong royong. Kegotongroyongan menjadi nilai dasar dalam demokrasi Pancasila. Gotong-royong bermakna bersama-sama dalam menyelesaikan persoalan. Gotong royong menjadi “sapu lidi” persatuan Indonesia.

Baca juga  Membangun Tanpa Merelokasi Tapi Dengan Metode “Menggeser Sedikit”

Bahasa yang paling umum perihal gotong-royong bagi orang Manggarai adalah do’do. Di beberap tempat di Manggarai Timur, dodo sinonim dengan leko leles. Berangkat dari budaya agraris seperti orang Indonesia pada umumnya, praktik dodo/leko leles biasanya dalam urusan berkebun dan bertani.

Dodo/leko leles dimengerti sebagai bekerja sama dalam berkebun atau bertani, mulai dari proses menyiang sampai panen. Kerja sama yang dimaksud adalah bergantian seperti “berbalas pantun” dalam berkebun atau bertani.

Baca juga  Belajar dari Anggota Tubuh Membangun Iklim Sosio-Harmonis (Interprestasi Kontekstual IKOR: 12: 12-31)
Beri rating artikel ini!
Demokrasi “Leko Leles”,3 / 5 ( 2voting )
Tag: