Demokrasi “Leko Leles”

Di Kabupaten Manggarai Timur, politik leko leles dianggap sebagai politik “berbalas pantun” pasca pemerintahan Yoga Jilid I dan II yang gawangi oleh Bupati Yosep Tote dan Wakil Bupati Agas Andreas. Bupati Yosep Tote berasal dari wilayah Kota Komba (dengan berberapa klan atau wa’u dan komunitas masyarakat adat) yang memenangkan Paket Yoga dalam dua kali Pilkada Manggarai Timur.

Wakil Bupati Agas Andreas berasal dari wilayah Lambaleda Raya (Poco Pene sampai Nanga Lirang) yang para para pemilihnya (terdiri dari berberapa klan atau wa’u dan komunitas masyarakat adat) juga aktif memenangkan Paket Yoga Jilid I dan II.

Baca juga  Pemuda di Rentangan Idealisme-Praxis. "In Memoriam" Hery Jebarus

Sebagai peletak dasar pembangunan Kabupaten Manggarai Timur, pada dasarnya, pemerintah Yosep Tote dan Agas Andreas berlangsung aman dan sesuai dengan koridor RPJMD. Perubahan demi perubahan cukup dirasakan masyarakat Manggarai Timur.

Dengan design program cengka cikot (membangun dari desa), Kabupaten Manggarai Timur yang baru mekar ini mulai menemukan bentuk. Kesejahteraan yang dirasakan masyarakat desa dan kota cukup merata. Sebagai kabupaten baru, masih banyak tuntutan-tuntutan masyarakat yang belum terpenuhi. Tetapi itulah risiko dalm proses pembangunan berkelanjutan (susteinable development).

Baca juga  Veronika dan PKK Manggarai

Atas dasar susteinable development, kepemimpinan yang akur (2 periode tanpa ada “matahari kembar”) dan capaian-capaian pembangunan pemerintahan Yoga Jilid I dan II, maka inisiatif politik leko leles pun datang dari masyarakat Kota Komba. Para tokoh dan tetua adat Kota Komba mulai berpikir tentang keberlangsungan kepemimpinan Manggarai Timur. Hal itu ditandai dengan sumpah adat dan usulan nama calon wakil bupati asal Kota Komba yang akan mendampingi calon bupati Agas Andreas dalam Pilkada 2018.

Baca juga  Dinas Dukcapil dan Pilkada Matim 2018
Beri rating artikel ini!
Demokrasi “Leko Leles”,3 / 5 ( 2voting )
Tag: