Demokrasi “Leko Leles”

Sebuah kalimat sumpah adat dalam ritual adat (paki kaba) syukur kemenangan Yoga Jilid II di gendang Mokel (Mukun) pasca Pilkada 2014, diingat kembali dan beredar dalam cerita-cerita masyarakat Kota Komba. Bunyinya, “poli ho’o, ngger’eta ulun, neka lemon ketiak dite”. (Kira-kira) artinya sumpah itu, setelah Yoga Jilid II, bupatinya berasal dari wilayah Lamba Leda Raya dan wakil bupatinya berasal dari wilayah Kota Komba.

Pewujudan atas sumpah yang pernah diucapkan itu adalah pemilihan Jaghur Stefanus sebagai calon wakil bupati mendampingi calon bupati Agas Andreas. Keseriusan komitmen politik masyatakat kota komba itu “dideklarasikan” secara budaya dalam upacara “selek” atau dandan perutusan.

Baca juga  Marthen Dira Tome dan Resep “NTT Satu”

“Selek” itu diselenggarakan oleh suku Rembong (di gendang Rembong) dan wa’u pat (empat klan:Mukun, Ngusu, Deru, Manus) Mokel (di gendang Mokel). Selain itu, komunitas-komunitas masyarakat adat yang lain di Kota Komba juga melakukan ritual “selek” dalam merayakan sumpah dan komitmen politik leko leles di atas.

Komitmen politik leko leles masyarakatKota Komba menjadi bekal budaya pagi perjuangan politik Agas Andreas dan Jaghur Stefanus atau Paket ASET.Jika komitmen itu konsisten, maka “demokrasi dengan mempertimbangkan budaya kemanggarai(timur)an” itu akan mereduksi pramatisme politik Pilkada 2018. Begitu harapannya.

Baca juga  Musda “Poling SMS “ Partai Demokrat dan Antagonisme Politik

Sebagai nilai, demokrasi politik leko leles tentu hanya menuntun sikap dan arah pilihan. Tetapi, masyarakat Kota Komba tetap mengikuti proses-proses dan tahapan-tahapan proses demokrasi prosedural bersama warga Manggarai Timur lainnya dalam Pilkada 2018.

Yang jelas, ketika politik mengakar budaya maka demokrasi akan membuahkan kebaikan bersama. Sebab budaya yang luhur selalu bisa mengukur mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam berpolitik, setiap orang berhak menentukan mana yang terbaik bagi dirinya, masyarakat dan negara.

Baca juga  Marianus Sae dan Persematim Manggarai Timur

Akhirnya, berdemokrasilah sejuah itu tidak melanggar hak-hak politik orang lain.

Alfred Tuname
Penulis dan Esais

Beri rating artikel ini!
Demokrasi “Leko Leles”,3 / 5 ( 2voting )
Tag: