Bupati dan Air Mata Buaya

Sebagai bapak, nurani bupati pasti menangis melihat penderitaan dan kemiskinan masyarakat. Dengan air mata ia merasakan penderitaan dan kebutuhan masyarakat. Dalam falsafah Jawa, ojo rumongso iso, tapi iso rumongso. Pemimpin itu jangan hanya merasa bisa, tapi bisa merasakan. Karena iya merasa, maka ia akan berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Dengan air mata, ia bisa mengalirkan kebijakan pembangunan demi kesejateraan masyarakat.

Bupati Lebak, Banten, Iti Octavia Jayabaya pernah menangis ketika menyaksikan derita kemiskinan yang dialami oleh warganya. Di YouTube (publikasi KompasTV, 9/4/2016), derai air mata jatuh terurai di hamparan wajah. Ia merasakan penderitaan masyarakatnya itu. Jelas, ia pasti mengurangi beban penderitaan warganya itu dengan kebijakan dan diskresi yang tepat.

Baca juga  Veronika dan PKK Manggarai

Sebagai penguasa, bupati perlu jeli juga melihat derai air mata kesedihan yang tumpah di hadapannya. Air mata itu biasa jatuh di wajah penjilat dan yudas serta sengkuni. Sangat jarang air mata jatuh dari wajah-wajah polos masyarakat. Sebab masyarakat selalu punya harga diri bila berhadapan dengan bupati atau penguasa. Dasarnya, masyarakat adalah pusat kedaulatan politik. Permintaan masyarakat kepada bupati (pemerintah) merupakan bagian dari hak politik berdemokrasi: dari, oleh dan untuk rakyat.

Baca juga  Partisipasi “Simetris” Pemda dan Panwas Manggarai

Itu berbeda dengan air mata di wajah penjilat, yudas dan sengkuni. Air mata mereka itu untuk jabatan, proyek dan kekayaan. Itulah air mata buaya.  Dengan air mata buaya, mereka tak ingin pulang dengang tangan kosong. Selama berkuasa, mereka datang untuk mengemis.  Mereka akan hilang apabila bupati tak berkuasa lagi. Mirip syair lagu populer, ada uang abah disayang, tak ada uang abah ditendang.

Lebih buruk lagi bila air mata buaya itu justru mengalir dari wajah bupati itu sendiri. Itu air mata yang mirip sengkuni, yakni air mata yang jatuh bila ada maunya; air mata yang jatuh di jelang akhir masa berkuasa; air mata yang jatuh ketika ditimpa persoalan atau tekanan penegak hukum dan media massa.

Baca juga  Disomasi Bupati, Ahang : Itu Gertak Sambal
Beri rating artikel ini!
Bupati dan Air Mata Buaya,3.50 / 5 ( 2voting )
Tag: