Ketakjuban yang Mendatangkan Cinta! (Sebuah Sketsa ke Arah Ekowisata Pariwisata Manggarai Timur)

 

Kanisius Teobaldus Deki

Kanisius Teobaldus Deki (Dosen STKIP Santu Paulus, Ketua Lembaga Nusa Bunga Mandiri)

Mula Kata

Flores merupakan wilayah yang eksotik. Keindahannya tidak hanya mendatangkan decak kagum melimpah tetapi juga cinta! Adalah Kapten Tasuku Sato seorang serdadu Dai Nippon (Jepang) kala perang Asia Pasifik Raya berkecamuk diutus militer Jepang mendatangi Indonesia, khususnya Flores.Sato melukiskan Flores sebagai sebuah komunitas keindahan dalam segala aspek.Bukan hanya alamnya yang indah, tetai juga khazanah kebudayaan yang memiliki nilai yang tak terhitung.Karya yang diberi judul “I Remember Flores”  ditulis P. Mark Tennien, seorang misionaris yang menjadi kawan Sato di Pulau Bunga ini, diterbitkan pertama oleh Farrar, Straus and Cudahy, New York tahun 1957, menjadi sebuah karya yang menyohorkan nama Flores di pentas dunia.

Hampir 20 tahun kemudian, publikasi yang menawan ini baru diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah Ende di bawah judul “Aku Terkenang Flores” (1976). Lama sesudah terbitan pertama itu, baru tahun 2005, buku yang sama diterbitkan kembali.Buku yang dianyam dalam bahasa sastrawi ini (dan diterjemahkan secara indah oleh Thom Wignyanta) menjadi sebuah bukti tentang ketakjuban yang menawan sekaligus mendatangkan mendalam cinta tentang Flores bagi banyak pihak.[i]

Baca juga  Demi Tour de Flores, Pemda Manggarai Terpaksa Berhutang Dengan Swasta

Jika merunut sejarah nama, Flores adalah sebuah nama pemberian bangsa Portugis yang menjelajahi wilayah ini dalam usaha perdagangan di abad ke-16. Dalam bahasa Portugis, nama Flores diambil dari “Copa de Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Konon nama ini diperkenalkan oleh S.M.Cabot untuk menyebut nama paling timur pulau Flores. Sejak tahun 1636, Gubernur Hindia Belanda, Hendrik Brouwer juga menggunakan nama Flores untuk menyebut pulau ini. Dalam penelitian Orinbao (1969), nama asli untuk pulau Flores adalah Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.

Boleh jadi masih begitu banyak nama yang bakal muncul untuk pulau dengan beberapa kabupaten ini. Keunikan kultur yang beragam, keindahan alam yang eksotik, kehidupan sosial budaya dan religious yang kental menjadi panorama yang melekat pada identitas kefloresan. Keindahan yang terbentuk dari serpihan yang disumbangkan masing-masing wilayah dan kebudayaan yang berbeda.

Baca juga  Satu Tubuh Banyak Anggota: Beragam Sebagai Kekayaan

Seraya menganut prinsip totem pro parte, pembahasan tentang Flores secara spisifik kiranya membutuhkan waktu dan perhatian berlebih. Pada kesempatan ini, hirauan kami adalah Manggarai Raya yang saat ini terbagi dalam tiga wilayah adminsitratif: Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur.

Potensi Wisata Alam dan Budaya

Perjalanan melintas batas wilayah, dari kampong, kota hingga Negara dengan tujuan mencari kesenangan kerap disebut sebagai pariwisata. Dalam  literature berbahasa Inggris sering disebut “tourism”, dari asal kata “tour”. Secara etimologis, konon kata ini berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, pari dan wisata.Kata  “pari” berarti berarti berkeliling, berputar-putar, berkali-kali, dari dan ke. Sedangkan, kata “wisata” berarti berpergian, perjalanan, yang dalam hal ini bersinonim dengan kata travel.

Pembicaraan seputar pariwisata dan wisatawan muncul secara kuat mula-mula di Perancis pada akhir abad ke-17.Namun, pariwisata sebagai sebuah aktivitas yang kurang lebih tetap baru mulai di pertengahan abad ke-19.Pada saat itu, jumlah orang yang berwisata masih terbatas karena butuh waktu lama dan biaya besar, ditambah lagi keamanan yang kurang terjamin, dan sarananya masih sederhana.Hal itu berubah drastic sesudah Revolusi Industri.Tidak hanya golongan elit saja yang bisa berpariwisata tapi kelas menengah juga.Kondisi ini ditunjang oleh adanya kereta api. Sejak perekonomian dunia membaik di awal abad ke-20,dan setelah perang dunia II berakhir, kemajuan teknik produksi dan teknik penerbangan menimbulkan booming pariwisata dalam wajah perjalanan paket wisata (package tour).

Baca juga  Rindu yang Jadi Nyata? Tentang Impian Kekuasaan Orang Cibal di Manggarai

Di Indonesia geliat pariwisata sebagai sebuah peluang ekonomi terbaca dalam rancangan pembangunan nasional tahun 1960 dengan lahirnya Dewan Tourisme Indonesia. Kesadaran akan pentingnya Indonesia menjadi salah satu destinasi wisata penting dunia menggerakan Indonesianisasi istilah tourism yang sudah terlanjur enak didengar telinga. Hal itu menjadi salah satu kiblat musyawarah nasional di Tretes-Jawa Timur pada 12-14 Juni 1985.Katatourisme diganti dengan kata pariwisata.