Pemerhati Pemuda Itu Telah Pergi (Obituari untuk Rufinus Lahur)

Kaum muda dan Organisasi

Ada begitu banyak ulasan Rufinus yang tersebar di jurnal Analisis CSIS yang menunjukkan kepiwaian Rufinus sebagai seorang cendekia. Ulasan-ulasan itu membentang dari masalah geopolitik pembangunan hingga ideology yang menaunginya. Namun ada focus yang tak bisa dihindari dari eksistensi seorang Rufinus yakni tentang pemuda.

Tulisannya bersama J. Babari berjudul “Pemuda dan Masa Depan” diterbitkan oleh CSIS di Jakarta tahun 1987. Buku yang tebal halamannya 225 helai ini merupakan bunga rampai karangan para penulis mengenai pemuda. Nama-nama beken seperti Mr. Sunario Roeslan Abdulgani, Daoed Joesoef, Abdurrachman Surjomihardjo, dan masih banyak nama yang dapat dideret, dapat dibaca dalam sajian yang lugas dan menarik.

Baca juga  Minder karena Tak Pernah Tumbuh Rambut, Pemuda di Konggang Gantung Diri

Kaum muda dalam pandangan Rufinus adalah generasi enerjik. Generasi yang memiliki kemauan, tekad sekaligus tindakan. Refleksi kritis nan cerdas tentang kehidupan bermetamorfosis pada perilaku dan aksi. Ada dialektika yang seimbang antara aktivitas berpikir dan usaha untuk mengejawantahkannya pada kehidupan.

Karena itu, harus ada usaha untuk membina diri, mengembangkan segala potensi dan memperkuat komitmen pada diri orang muda itu. Wadah yang paling cocok adalah berorganisasi. Melalui organisasi kaum muda dilatih untuk mengenal diri, memiliki tujuan, melatih kedisiplinan, bekerja sama, memiliki kepekaan rasa.

Baca juga  Lagi, Anggota Dewan di Manggarai Berkelahi di Ruang Paripurna

Hal ini bukan sekedar ide pada dirinya. Rufinus adalah pribadi yang terbentuk melalui organisasi. Entah intrakampus seperti Senat Mahasiswa maupun ekstrakampus seperti Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Katolik dan Front Katolik.

Pada skala nasional menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Katolik (1963-1967) dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Katolik (1967-1970). Seakan linear dengan keaktifannya di organisasi, pada tahun 1967-1970, Rufinus didapuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong.

Bersama rekan seperjuangannya, Richardus Djokopranoto dan FX Oerip Soedjoed mereka mengedit buku yang berjudul “Memoar Alumni Pemuda Katolik-Rangkaian Pengalaman dan Refleksi”, diterbitkan oleh Penerbit Obor tahun 2010. Sebuah buku yang bukan saja menggelar lintasan perjalanan perjuangan mereka di Pemuda Katolik, tapi lebih dari itu, menginspirasi generasi muda untuk menjejaki langkah perjuangan yang sama.

Baca juga  Bupati Manggarai Tolak Pasien PDP Mabar Rawat di RS Ben Mboi

Di masa pensiunnya, Rufinus mengabdi pada Yayasan Universitas Bina Nusantara sekaligus sebagai seorang pengajar di sana. Dari tuturan duka para mantan mahasiswanya diketahui bahwa Rufinus adalah seorang pengajar yang tidak saja brilian, tetapi juga mau belajar dari orang-orang yang diasuhnya. Seorang pribadi yang banyak tahu tetapi rendah hati, penuh pengalaman tetapi membaginya dalam kerelaan.

Tag: