Pemerhati Pemuda Itu Telah Pergi (Obituari untuk Rufinus Lahur)

Rindu kampung halaman

Rufinus lahir pada 15 Juli 1938. Selepas menamatkan sekolahnya di Sekolah Rakyat (SR), Rufinus berpindah tempat untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi: di Timor, Ende, Sulawesi Utara dan Malang. Bahkan di Sulawesi Utara aneka kesulitan dihadapinya, persis bersamaan dengan pemberontakkan politik Perjuangan Semesta yang berkecamuk antara 1957-1960. Opa Rufinus berkisah betapa peliknya keluar dari pergolakan politik itu dan hijrah ke Malang.

Di Malang Opa Rufinus mempersunting kekasih hatinya, membangun bahtera rumah tangga. Dari Malang perjalanan kehidupan membawanya ke Jakarta hingga akhir hayatnya. Ada kerinduan yang membuncah untuk membangun kembali kampung halamannya: Tenda, kampung di kaki gugusan pegunungan Mandosawu. Acapkali jika ada kesempatan, Opa Rufinus kembali ke kampung, membangun kembali relasi yang sempat putus, menciptakan ruang diskusi tentang masa depan dan menumbuhkan kembali symbol-simbol budaya dalam bentuk material seperti rumah adat.

Baca juga  Propam Polda NTT dan Iptu Aldo Seperti  Lagu Franky Sahilatua, "yang Salah Dipertahankan yang Benar Disingkirkan"

Tahun 2013 panitia pembangunan rumah adat Gendang Tenda mulai dibesut. Panitia dibentuk dengan komposisi seturut organisasi modern. Opa Rufinus sangat terenyuh saat kami mempresentasikan rencana pembangunan itu di rumahnya 12 April 2015. Tak segan-segan Opa Rufinus membantu panitia dengan jumlah dana yang cukup besar.

Sebuah pilihan untuk mendukung persatuan dan kesatuan masyarakat Tenda yang terbelah oleh pilihan politis yang berbeda. Sejak rumah adat itu dibangun, rasa persatuan dan kesatuan itu kembali terwujud. Ada kekompakkan dan komitmen untuk membentuk Tenda Baru yang bersaudara, maju dan sejahtera.

Baca juga  50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Melkior Anggal, Membangun melalui Pendidikan

Bersama istrinya, opa Rufinus memenuhi kerinduannya dengan mengunjungi rumah tradisional Manggarai di Wae Rebo, menjumpai sawah Lodok di Cancar dan aneka keindahan Manggarai yang tidak saja menimbulkan decak kagum tapi juga menciptakan kerinduan abadi.

Tahun 2016 adalah pertemuan kami terakhir kalinya di Hotel Sindha. Saya melaporkan perkembangan pembangunan sebagai Ketua Panitia. Opa Rufinus memberikan apresiasi dengan melaju ke diskusi soal bagaimana menata kembali ekonomi masyarakat perkotaan. “Sesudah rumah adat selesai, mari kita mengembalikan kejayaan kota kita. Mari kita mengembangkan lingko-lingko (kebun komunal masyarakat adat) dengan perspektif baru”, pesannya.

Baca juga  Kopkardios Membangun Ekonomi Manggarai Timur

Rupanya diskusi itu menjadi titik mulai baru. Sebuah perjuangan membentuk kota Ruteng yang tidak hanya maju, tetapi juga dicintai oleh pemiliknya. Efeknya jelas: selalu rindu padanya jika berada di tempat yang jauh.

Sayangnya, kerinduan Opa Rufinus untuk kembali menyaksikan rumah adat yang telah purna, kandas diganjal usia. Namun cintanya tetap membara untuk Tenda yang baru, kota Ruteng yang layak dirindukan dan dibanggakan tak pernah sirna. Selamat jalan opa Rufinus, kami akan selalu mengenangmu melalui perjuangan untuk mewujudkan impianmu untuk kami! )***

Tag: