Suara yang Terus Menggema (In Memoriam Pius Hamid)

Harus diakui bahwa kematian lima orang: Frans Magur (60), Yosef Tatuk (23), Vitalis Jarut (23) , Domi Amput (40) dan Maximus Toi (45) dan derita cacat total bagi yang masih hidup seakan tak menggemingkan pemerintah saat itu. Berbagai aksi pembelaan yang normative tetap dijalankan pemerintah dan kepolisian.

Bahkan kedatangan para petani yang ingin mencari keluarganya yang ditahan polisi dianggap serangan oleh polisi sehingga layak dibalas dengan tembakan senjata api. Dalam seluruh peristiwa yang disebut “Rabu Berdarah” itu, Pius menjadi salah satu lokomotif perlawanan terhadap arogansi kekuasaan melalui suara kritis yang produktif.

Usaha ini kemudian tidak membuahkan hasil maksimal. Keadilan yang diharapkan menjadi pemenang dari seluruh proses, kandas entah pada level mana. Seakan mengamini slogan “penguasa menang di segala lini”, para polisi yang terlibat dalam kasus penembakan itu (empat perwira, 19 bintara polisi dan mantan Kapolres Manggarai kala itu, AKBP Boni Tompoi) yang sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka, divonis bebas. Sedangkan sekitar 15 orang petani meringkuk di balik jeruji besi dan puluhan mengalami cacat akibat tembakan senjata api.

Baca juga  Pilgub NTT Jangan Dirasuki Politik Identitas

Melayani Orang Desa

Keberanian Pius tidak muncul begitu saja. Keberanian, sebagai salah satu keutamaan cardinal dalam konteks budaya latin, adalah sebuah capaian dari proses yang panjang. Ada kebiasaan untuk membaca situasi, merefleksikannya dan membangun komitmen demi terlibat memberikan solusi.

Kebiasaan ini, dalam tuturan seorang sahabatnya, Frans Laja S.Fil-Manajer Koperasi Kredit Aman, terbangun melalui diskursus filsafat a la Kantian yang dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804). Karya Immanuel Kant yang erat bertalian dengan epistemology, yakni ilmu yang membahas kebenaran pengetahuan manusia, yakni Kritik der reinen Vernunf (1781), Kritik der praktischen Vernunf (1788) dan Kritik der Urteilskraft (1790) menjadi referensi olah pikir untuk mengembangkan ide-ide dalam dirinya.

Baca juga  Ritus Teing Hang Empo dan Usaha Melawan Lupa

Dalam judul-judul bukunya, Kant memilih menggunakan kata “Kritik” (critique) untuk buku-buku yang ditulisnya. Arti ‘Kritik’ disini tidak melulu dimaksudkan sebagai evaluasi negatif akan suatu obyek tertentu, tetapi sebagai suatu refleksi kritis yang hasilnya berpeluang positif ataupun negatif.

Sealur dengan refleksi epistemologi Kant yang hendak merumuskan sebuah jembatan raksasa untuk membuat sintesis antara rasionalisme dan empirisme, Pius, menurut Frans Laja, ada dalam dialektika itu sepanjang hidupnya. Ia ingin menunjukkan kegagalan Rasionalisme yang menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio saja. Pengalaman empiris hanya menegaskan apa yang telah sebelumnya telah diketahui oleh rasio. Konsep aliran Empirisme persis berpendapat sebaliknya: hanya segala sesuatu yang merupakan pengalaman inderawi sajalah yang bisa dijadikan sebagai dasar pengetahuan manusia.

Baca juga  10 Orang Warga Matim Muntah-Muntah dan Pingsan saat Minum Kopi
Tag: