Suara yang Terus Menggema (In Memoriam Pius Hamid)

Suara yang Terus Menggema

Ketakpuasan akan kalahnya petani di hadapan kekuasaan membuat Pius banting stir. Tidak cukup untuk membantu petani jika kebijakan pemerintah tidak mengakomodasi kepentingan petani. Itulah sebanya dia membangun kekuatan petani melalui organisasi yang dibentuknya: Serikat Petani Manggarai (SPM). Ada program advokasi pada petani. Para petani dilatih untuk memahami hak dan kewajibannya di hadapan Negara, disiplin, giat bekerja, berorganisasi. Lebih-lebih Pius mendorong keterlibatan mereka dalam politik praktis.

Baca juga  Pemuda Menggagas (Kembali) Kesenian Lokal

Pius sendiri kemudian menjadi anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur (2009-2014) dan Sekretaris Partai Amanat Nasional. Pria yang lahir pada 28 Juli 1967 ini berusaha maju lagi dalam Pileg 2014 tapi tidak terpilih lagi. Tekanan hidup yang kian berat dideritanya di saat-saat terakhir hidupnya. Ada banyak orang yang membantu. Dia selalu percaya bahwa ada kebaikan pada setiap orang.

Baca juga  Demokrasi “Leko Leles”

Dalam derita yang tak tertahankan lagi karena sakit stroke, Pius kemudian pindah dari Borong ke Buntal, kembali lagi ke desa, mengerjakan sawah, untuk bersama orang desa mewujudkan impian yang belum tercapai. Usaha itu tak pernah purna, pada 6 Januari 2018 Pius menghembuskan nafas terakhir ditemani sang Istri, Ima Gaa. Namun pilihan sikap hidup Pius membela yang benar, menjadi suara yang tetap menggema dalam hidup kita!***

Baca juga  Jaksa SP3 Dugaan Korupsi Proyek Pasar Rakyat Ruteng, Kajari : Yang Tidak Puas Silakan Gugat
Tag: