Benny Litelnoni : Kematian Adelina Sau Bukti Mafia Perdagangan Orang Menggurita di NTT

Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTT, Benny K Harman-Benny Litelnoni

Floressmart—Kematian Adelina Sau, menambah daftar duka yang mendera pekerja migran asal NTT yang yang mengadu nasib di negeri Jiran Malaysia. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pemprov NTT merilis data kematian pekerja migran asal NTT tahun 2017 sebanyak 62 orang di Negara penempatan Malaysia.

Seperti diberitakan, Adelina, TKW asal Desa Abi, Kecamatan Oenino  Kabupaten Timor Tengah Selatan itu meninggal karena menderita anemia dan kegagalan fungsi organ setelah disiksa majikan dan disuruh tidur di lantai luar rumah majikannya selama sebulan bersama seekor anjing.

Lalu apa kiat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menekan kasus serupa selain mengutuk keras tindakan biadap yang dilakukan majikan wanita 21 tahun itu di Penang Malaysia.

“Entah sampai kapan kejadian seperti ini terus terjadi. Pemerintah dan masyarakat NTT sangat mengutuk tindakan biadap ini. Kasus ini tentunya sebagai bahan evaluasi, kasus Adelina bukti mafia perdagangan orang menggurita di NTT,” kata Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Benny Aleksander Litelnoni, Selasa 20 Februari 2018.

Baca juga  Christian Rotok Berang Karena Gubernur NTT ‘Buang’ Ruteng-Iteng Lalu Ambil Ruas Cumbi-Golo Cala

Wagub NTT yang tengah mengambil cuti kampanye Pilkada NTT ini juga menyampaikan terima kasih atas upaya Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang telah mengurus pemulangan  jenazah Adelina ke tanah air.

Menurutnya, kasus kematian TKI asal NTT yang terus terjadi merupakan imbas dari kerja-kerja ilegal. Iming-iming gaji besar tanpa keterampilan membuat calon tenaga kerja dan keluarganya terbuai dan menuruti saja tipu muslihat dari para mafia perdagangan orang.

Lebih lanjut dikatakan, persoalan di hilir (masyarakat) yang kadang kontradiktif dengan kerja keras Satgas Perdagangan Orang (human trafficking) merupakan fakta lain dibalik isah kematian ratusan orang pekerja migran asal NTT.  Satu sisi kata dia, Satgas makin perketat validasi dokumen ketenagakerjaan sementara di saat yang sama masyarakat enggan menolak kehadiran mafia perdagangan orang yang datang ke kampung mereka.

Lebih lanjut ia katakan,pihak keluarga juga tidak berusaha menanyakan kabar anaknya yang telah berangkat menjadi TKI ke pihak perekrut. Keluarga,kata dia, pada akhirnya hanya mendapat kabar kematian dari anak mereka.

“Adelina ini direkrut oleh calo TKI asal Kupang yang tidak diketahui namanya pada Agustus tahun 2015. Korban ini asal TTS tapi menggunakan KTP Kabupaten Kupang. Paspor korban diterbitkan oleh kantor Imigrasi Jawa Timur, dan korban saat diberangkatkan menjadi TKW berumur 15 tahun padahal waktu itu usia Adelina 16 tahun,” kata Benny Litelnoni.

Baca juga  Mobil Cagub Benny Litelnoni Diadang Kawanan Pemuda di Carep

“Adelina  seperti diculik saja, karena ia dibawa saat orang tuanya masih bekerja di sawah. Waktu itu orang yang merekrut dia hanya menitipkan uang Rp 500 ribu rupiah. Pihak keluarga juga tidak melapor padahal sudah bertahun-tahun anak mereka tidak ada kabarnya lagi,” ujar Litelnoni menambahkan.

Lebih lanjut dikatakan, kasus perdagangan orang (human trafficking) sebenarnya telah ditangani serius oleh Pemprov NTT, faktanya, lanjut Benny, tidak sedikit pelaku perdagangan orang ditangkap hingga menyeret oknum kepolisian serta petugas bandara. Pengiriman TKI ke luar negeri juga dari tahun ke tahun jumlahnya menurun.

“TKI yang resmi jumlahnya menurun dari tahu ke tahun,itu bukti kerja keras kita selama ini, tapi kan jumlah TKI yang melalui jalur tikus jumlahnya jauh lebih banyak. Yang legal pun bisa jadi korban kekejaman di Negara pengguna TKI, apalagi yang ilegal,” imbuhnya.

Baca juga  Emi Nomleni : yang Bilang Marhaen Kendor, Itu Salah Besar!

Buka lapangan kerja baru

Benny Litelnoni, Wakil Gubernur NTT yang kembali maju sebagai calon wakil gubernur NTT periode 2018-2023 mendampingi Cagub Benny K Harman mengatakan, faktor kemiskinan dan pengangguran mendorong sebagian besar masyarakat NTT memilih menjadi pekerja migran, paling banyak merantau ke Malaysia.

Duo Benny telah menyiapkan program ketenagakerjaan yang pas untuk kebutuhan masyarakat NTT, salah satu program yang diusung  yakni membuka lapangan kerja baru untuk 1000 orang per tahun.

“Tahapannya, yakni mendata seluruh pencari kerja di desa-desa sesuai ijazah yang dimiliki. Lalu kita menawarkan minat pelatihan kerja. Kita asah keterampilan mereka di Balai Latihan Kerja (BLK). Setelah mereka mahir, kita beri dia modal usaha melalui kredit perbankan tanpa agunan untuk pinjaman di bawah Rp 5 juta rupiah. Tugas kita selanjutnya melakukan pendampingan agar usahanya berkembang,” paparnya.

Selain itu, kata Litelnoni, tenaga  trampil yang keluar dari BLK-BLK bisa dikirim ke daerah lain berbasis kerja sama antar daerah.

“Sudah ada daerah-daerah di Indonesia yang siap bekerja sama dengan kita. Kalau kami terpilih, program penghapusan pengangguran jadi prioritas selain infrastruktur,” tambahnya.(js)

Tag: