Pewarta (an) Menunggangi Kepentingan Kristus

Pewartaan sebagai pengungkapan iman adalah konsekvensi bagi semua orang yang telah bersatu dalam Kristus melalui sakreman pembabtisan (I Kor 12:13).  Rahmat pesektuan yang tersalir dari relasi Trinitas menberikan penekanan kepada pewarta bahwa tugas mewartakan sebagai tindakan dialog-profetis.  Pewarta yang ampuh adalah mereka yang dengan rela hadir, menggali, meneliti dan memahami dinamika hidup penerima. Dialog-profetis pertama-tama terjadi dalam diri pewarta, melalui kemampuannya untuk mendengarkan dan memahami, kemampuan dan kesesuaian sikap dan tindakannya seturut Firman yang diwartakan. Inilah yang disebutkan oleh Pater. John M. Prior, SVD sebagai krediblitas seorang pewarta.

Baca juga  Pemimpin Yang Peka Dan Prihatin Terhadap Realitas  

Pewarta (Gereja) tidak hanya aktif mewartakan Firman dalam tatanan dogma, tetapi hadir secara akatif dan nyata untuk mengetahui situasi umat (penerima). Hadir secara nyata dan aktif dalam menyuarakan keadailan, memperjungkan keutuhan ciptaan mulai dari skiap dan tindakan konkrit. Sebab manusia, alam dan segala isinya berada dalam persekutuan Ilahi. Karena itu semua orang yang  percaya kepada Kristus sebagai simpul dari persektuan itu (pewarta dan penerima-penerima dan pewarta) tidak hanya pandai berkata-kata soal kebenaran, kasih dan cinta, tetapi berani melakukan semua itu dalam tindakan sehari-hari, sebagai tindakan nyata kita yang percaya kepada Kristus yang bangkit (bdk. 1 Yoh 3:18; 23).

Baca juga  Belajar dari Anggota Tubuh Membangun Iklim Sosio-Harmonis (Interprestasi Kontekstual IKOR: 12: 12-31)

Pewarta tidak akan menjadi orang asing bagi penerima bila setiap orang yang mewartkan berani menembus tirani-tirani pembantas antar pewarta dengan penerima, dan antara penerima dengan penerima. Kebranian dan panggilan hati untuk berdialog dengan bumi, antar budaya dan antar agama adalah hal mutlak untuk dilakukan oleh pewarta. Pewarta dapat menembusi batas-batas pemisah dengan  bedialog dengan bumi. Bumi yang bersifat relasional memberikan titik klimaks untuk membangun kesadaran ekologis. Kebranian pewarta untuk masuk dalam persoalan ekologis pendengar dengan menggali, mendalami, dan menderngarkan rintihan alam dapat mengarahkan penerima Firman kepada Kristus, dalam Kristus titik kesempurnaan ciptaan terlaksana.  

Baca juga  Disomasi Bupati, Ahang : Itu Gertak Sambal
Beri rating artikel ini!
Tag: