Pewarta (an) Menunggangi Kepentingan Kristus

Keunikan dan atau keragaman budaya akan memperkaya refleksi kitab suci, bila setiap pewarta dan pendengar mempunyai keterbukaan, ketulusan dan kejernihan hati untuk saling menukar refleksi antar budaya. Disaat yang sama, pewarta dan pendengar Firman dapat saling memperkaya diri dengan nilai-nilai kekhasan penghayatan atar agama. Dengan demikian Firman tidak dipahami dalam bingkai sempit, atau terlampautradisionalistik dan dogma yang kaku, tetapi terbuka dan universal dengan melibatkan kemampuan dialog-profetis dengan bumi, antar budaya dan antar agama (John M. Prior).

Seorang pewarta benar-benar mengetahui konteks penerima bukan dari orang lain melainkan oleh dirinya sendiri. Pewarta dapat masuk dan mengetahui semua nilai-nilai dari tantangan yang dialami penerima Firman, bila saja seorang pewarta mangambil tanggungjawab. Hal ini merupakan hukum moral bagi pewarta, esensinya adalah  pewarta menelaah bahan yang dikomunikasikan sesuai dengan situasi-situasi yang dihadapi oleh penerima, sebab satu model pewartaan dan materi pewartaan (misalnya kotbah dan ketekese) daya pengaruhnya (serapnya) sangat berbeda sesuai dengan situasi umat (bdk. IM.4). Singkatnya, pewarta tidak dapat menggunakan kotbah atau materi katekese yang sama dalam dalam setiap tahun, baik ditempat yang sama maupun ditempat yang berbeda.

Baca juga  Merangkul Bumi (Persembahan untuk Peringatan Hari Bumi, 22 April)

Pewarta adalah mewartakan Kristus. Kepentingan yang paling utama adalah kepentingan Kristus, bukan kepentingan pribadi pewarta. Oleh karena itu, Pater Jhon M. Prior  dalam meterinya mengemukakan kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh seorang pewarta (di samping seni mendengarkan dan krediblitas pewarta) yakni, pertama kompetensi teknis, kompetensi ini dimiliki oleh pewarta agar mengetahui dan mampu menerapkan teknologi pada pewartaan Firman secara dialogal-profetis. Kedua. Kompentensi Kritis. Kompetensi ini dimiki oleh pewarta agar mengetahui kapan dan bagaimana melakukan diolog. Ketiga. Komptensi Kreatif, dengan kompetensi ini pewarta akan menerima dan mengenali sasaran pewartaan dengan seluruh konteks dan kebutuhan penerima Firman.

Baca juga  Aduh!! Marsel Ahang Ngamuk Lagi di Sidang Paripurna DPRD

Keempat. Kompetensi etis, oleh komptensi ini mengarahkan pewarta untuk tidak mengabaikan pendengar, khususnya agama, budaya, gender, dan martabat manusia. Kelima. Kompetensi budaya, dengan kempetensi ini pewarta mampu mengenali, memahami dan menghargai keragaman budaya pendengar. Keenam. Kompetensi teologis, pewarta tidak hanya berandalkan kemampuan akademis tetapi juga pemahaman spiritual yang mendalam. Ketujuh, Kompetensi Profesional, pewarta dikayakan dengan kemampuan praktis melauli pelatihan, dan kompetensi akademik melalui studi dan penelitian.

Baca juga  Pilgub NTT Jangan Dirasuki Politik Identitas

Disamping komptensi-kompentensi di atas, kemauan dan panggilan untuk mendengarkan  dengan tulus suara penerima dengan seluruh dinamikannya adalah mewujudkan Gereja sebagai Gembala yang berbau domba.  “Para Gembala ditantang mengembalakan domba-domba di padang rumput Indonesia yang makin menantang sambil memberikan kesaksian spirit dari Sang Gembala Agung yang setia dan tidak meninggalkan domba-domba-Nya. Para gembala berbau domba adalah tuntutan nyata dalam merajut kesatuan dan hadir dalam kehidupan umat dan mengenal padang gembala yang mungkin semakin gersang” Kata Pater Dr. Peter C. Aman OFM.

Beri rating artikel ini!
Tag: