Prapaskah dan Prapemilihan Menyonsong “Kebebasan dan Keselamatan”

Bertindak saat Prapemilihan

Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan calon kepala dareah yang akan dipilih secara bebas dan demokratis oleh rakyat pada 27 Juni 2018. Namun perjungan para kotenstan belum berakhir pada pencabutan nomor urut. Mencari dukungan, sosialiasi dan kampaye terus menjadi angenda utama untuk mendapatkan tempat di hati rakyat. Janji politik dan strategi pembangunan sebagai pemikat perhatian publik. Kode etik dan black campaign terus diwaspadai sebagai bentuk sikap kenegarawan dan intergritas diri, baik oleh tim sukses apalagi oleh para calon.

Moment kapanye yang rentang waktunya cukup lama antara penetapan dan pemilihan adalah sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi rakyat (pemilih). Refleksi pada kenyataan yang telah terjadi selama lima tahun terakhir pasca pemilihan 2014 realitas di sekeliling kita, tapak tilas dan itergritas para calon adalah hal yang menjadi perhatian semua pemilih. Sama pentingnya dengan mengkritisi, dan mengkaji semua visi dan misi serta strategi pembangunan yang mampu membebaskan rakyat dari berbagai persoalan pelik seperti kemiskinan, korupsi, penganguran, kekurangan air bersin, dengan mengankat potensi-potensi wilayah yang merakyat.

Baca juga  Satu Tubuh Banyak Anggota: Beragam Sebagai Kekayaan

Rakyat memiliki pranan untuk memperoleh kebebasan diri, kemerdekaan diri dari berbagai persoalan pelik yang sedang dialami saat ini, lebih khusus persoalan-persoalan yang sedang dialami oleh rakyat NTT (lihat tulisan saya sebelumnya: kupang.tribunnews.com, 2017/12/17/).

“Dibebaskan” atau “diselematkan” dari berbagai keterpurukan, keadilan dan kesejahtraan, harapan dan cita-cita pembangunan yang didengunkan oleh rakyat adalah mutlak milik rakyat.  Harapan ini akan berjalan ditempat bila saja rakyat tidak menjemputnya. Kesejatraan umum, keadilan  sebagai tujuan luhur proses demokrasi akan terus “membeku” bila saja rakyat tidak memanaskannya melalui keterlibatan aktif dalam mengkritisi segala visi dan misi para calon dan aktif menjadi pribadi yang menolak money politic, baik secara pribadi maumpun secara kelompok, agar “terlahirnya” pemimpin yang berkuliatas dalam iterigritas, visioner, manajerial, dan hal lainya yang dapat membangkitkan seluruh rakyat (NTT) dari semua keturpurukan.

Baca juga  Manggarai “Zona Merah” Covid-19, Masyarakat Diminta Tenang dan Taati Protokol Kesehatan

Menilik segala situasi dan fakta disekitar kita mengafirmasi keputusan hati sebagai sumber kebenaran yang keras. Masa Prapaskah mengajar tentang pantang dan rekonsiliasi diri secara total sebagai tindakan menyonsong keselamatan. Dari kekuatan nilai-nilai pertobatan itu mengajarkan kita tentang kebenaran yang keras. Disesuaikan dari gagasan John Avanzini dalam bukunya RICH GOD POOR GOD bahwa kebenaran keras adalah kejujuran terhadap segala keadaan dan situasi yang dialami, baik itu tentang kemiskinan, ketidakadilan, ketidakjujuran, penderitaan. Kenyataan itu sebagai sumber keputusan otonom.

Baca juga  Romantisme Politik Pilkada

Kejujuran dalam memilih adalah investasi lima tahun mendatang untuk membebaskan diri dari berbagai ketimpangan sosial dan ekologis.  Kejujuran keras, beralih dari keterpurukan dan ketidakadilan, melambatnya perkembangan roda ekomi, ketimpangan akan behenti ditempat sejauh rakyat sebagai pemilik demokrasi tidak menjemputnya melalui pemilihan kepala daerah. Memilih kepada daerah dengan keputusan hati yang jujur dan keritis melalui refeksi yang panjang dengan menolak berbagi ketimpangan dan kecurangan adalah semangat dan gerakkan menyosong pemimpin yang memiliki naluri bonum comune.***

Penulis adalah Alumni Pendidikan Teologi STKIP St. Paulus Ruteng; Tenaga Kependidikan STKIP St. Paulus Ruteng

Tag: