Ritus Adat Orang Manggarai

Ritus Dopo Wing merupakan akhir dari seluruh proses nifas seorang ibu yang dimaklumkan final (ditandai menopause) dan karenanya memiliki alasan kuat untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas karunia keturunan dan kehidupan yang berkelimpahan (mose di’a-mose lencek). Demikian halnya dengan ritus-ritus adat yang lainnya dalam hal pekerjaan, perkawinan, kesehatan, kematian dan pascakematian (Deki, et.al., 2017).

Baca juga  Pemerhati Pemuda Itu Telah Pergi (Obituari untuk Rufinus Lahur)

Ritus selalu mengandaikan maksud baik. Ritus yang dibuat asal-asalan akan selalu membawa bencana bagi pelakunya. Karena itu, ritus dalam susunannya yang sudah baku dimulai dengan persetujuan bersama melalui pernyataan langsung (kari).

Kari yang dilakukan sebelum upacara wajib hukumnya sehingga upacara itu menjadi sah dan pantas. Ada tiga pihak yang harus ada dalam setiap ritus: 1) ase-ka’e (keluarga dari garis keturunan ayah), 2) anak rona (keluarga dari pemberi gadis) dan 3) anak wina (keluarga dari penerima anak gadis).

Baca juga  NTT Darurat Moral! (Catatan Akhir Tahun 2017)

Ase ka’e adalah saksi dari niat. Anak rona adalah penguat dari niat dan Anak Wina adalah penerima berkat dari niat itu. Oleh kehadiran tiga pihak itu, ritus orang Manggarai berciri relasional. Melalui ritus, relasi dibangun untuk selalu dan senantiasa ada dalam kekompakkan dan perdamaian.

Moment memperlihatkan usus atau hati ayam (toto urat) adalah kesempatan untuk mengetahui apakah niat dan doa diterima oleh Tuhan dan para leluhur. Saat sakral di mana dimensi spiritual bercorak mistis menjadi kekuatan sebuah ritual: kata-kata doa (torok/tudak) yang diucapkan dijawab dalam rupa tanda.

Baca juga  Membangun Karakter Pemuda di Era Milenial
Beri rating artikel ini!
Ritus Adat Orang Manggarai,4 / 5 ( 4voting )
Tag: