Ayo Indonesia : Kader Posyandu Garda Terdepan Lawan Stunting

Kader posyandu Desa Beamese Cibal melakukan demp pengukuran bayi untuk mengetahui stunting (Photo : floressmart).

Floressmart- Ayo Indonesia sejak dua tahun belakangan ini intens mengampanyekan penanganan dan pencegahan masalah stunting di Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur.

Sejak isu stunting menyeruak pada akhir tahun 2016, LSM yang fokus mengurusi masalah pendidikan dan kesehatan ini langsung mengusung konsep penyebarluasan informasi tentang stunting (sebab dan akibatnya). Dan menurut Ayo Indonesia, organ penyuluh paling cocok untuk menyampaikan informasi di masyarakat adalah kader posyandu.

Kerjasama Ayo Indonesia dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai terkait stunting bergulir sejak 2017 termasuk di dalamnya melibatkan puskesmas. Sejak awal 2018 kerjasama ini mulai melibatkan kader-kader posyandu.

Para kader posyandu di sejumlah puskesmas dilatih untuk membawakan penyuluhan tentang stunting termasuk keterampilan mengukur bayi dan anak di bawah 2 tahun, merekam dan menganalisis data berdasarkan kartu Z-Score). Kader peserta juga menerima pelatihan tentang bagaimana cara membuat susu kedelai.

Program ini juga dilakukan di Desa Beamese Kecamatan Cibal. Sebanyak 22 kader dari 22 Posyandu di desa itu telah dilatih dan 100% telah melakukan penyuluhan di posyandu mereka masing-masing.

Baca juga  Tahun 2018, Stunting di Manggarai Tak Lebih dari 15 Persen

”22 kader sudah cakap dan tahu bagaimana cara mengukur baduta, secara teratur, saat posyandu atau kunjungan rumah. Tercatat 9 ibu hamil dan menyusui dari 22 posyandu menerima susu kedelai dari kader terlatih, 59 anak yang stunting sedang dalam penanganan gizi,” kata Direktur Yayasan Ayo Indonesia, Tarsis Hurmali saat Rapat Evaluasi Kerjasama Mengatasi Kasus Stunting Anak Baduta di Wilayah Puskesmas Beamese, Selasa 26 November 2019.

Disampaikan Tarsis, dalam periode implementasi program ini sebanyak 22 kader benar-benar menerapkan pengukuran stunting di setiap sesi posyandu, menyimpan catatan dengan baik untuk evaluasi. Ia menambahkan, stunting menjadi ungkapan yang mulai dikenal oleh semakin banyak pihak di wilayah Desa Beamese.

“Sampai waktu monitoring November 2019, anak di bawah 2 tahun yang diindikasikan stunting mencapai pertumbuhan panjang yang lebih baik sebagai dampak dari pemberian susu kedelai. Perkembangan bayi/anak dari bumil – busui yang diintervensi susu kedelai lebih cepat dibandingkan dengan anak yang terlahir dari bumil KEK yang tidak mengkonsumsi susu kedelai,” paparnya.

Baca juga  Pasca Bom Sarinah Labuan Bajo Siaga Satu

Selain 22 kader posyandu, kegiatan tersebut dihadiri petugas Dinas Kesehatan Manggarai, kepala Puskesmas Beamese, jajaran pemerintah desa dan masyarakat.

Kegiatan tersebut ditutup dengan demo pengukuran bayi untuk mengetahui stunting serta ilustrasi penyuluhan tentang stunting oleh para kader posyandu.

“Kalau Negara ini teriak-teriak soal pencegahan stunting kalau tidak ada kader posyandu juga percuma. Peran kader-kader posyandu sangat penting sebagai garda terdepan lawan stunting,” kata Hurmali.

Kontribusi Ayo

Tarsis ketika diwawancara media mengatakan, kontribusi lembaganya selama imni yakni menarik perhatian lembaga strategis pemerintahan dan publik untuk memberi perhatian pada kasus stunting terutama dengan dinas terkait, seperti Dinkes, DKPKP, Bappeda, Distan, dll dalam program yang disebut advokasi kebijakan.

”Ayo Indonesia ikut mendorong lahirkan kebijakan yang memberi perhatian pada isu pangan dan gizi sebagai salah satu penyebab utama stunting. Artinya intervensi yang telah dibuat oleh pemerintah dan Ayo selama ini telah menunjukkan hasil yang baik,” cetusnya.

Ia pun berharap agar angka stunting di Manggarai terus berkurang pada tahun-tahun mendatang. Secara khusus ia meminta agar setiap desa di Manggarai mengalokasikan anggaran khusus sesuai instruksi pemerintah pusat yang diamanatkan melalui undang-undang desa.

Baca juga  Ayo Indonesia: Desa 'Palang Pintu' Gempur Stunting

“Pemerintah desa adalah orang yang bisa memegang kendali paling kuat di masyarakat untuk menggerakan upaya pencegahan dan penanganan stunting secara masif,” ujarnya.

Di Manggarai ‘perang’ lawan stunting ini digalakkan sejak awal tahun 2017 sejak pemerintah mulai menggencarkan upaya menekan angka stunting menindaklanjuti publis data stunting hasil riset Kemenkes. Stunting di Indonesia tahun 2013 sebesar 37%, NTT 51,7% dan Kabupaten Manggarai berada di atas NTT yakni 58%, dan menargetkan penurunan di tahun 2021 menjadi 48%. Pada 2018, persentasi Manggarai turun lagi, tetapi masih di atas tingkat mencemaskan, hampir 43%.

Stunting adalah kondisi malnutrisi kronik di mana panjang/tinggi badan tidak sesuai umur akibat kekurangan asupan gizi berulang dalam jangka waktu yang lama pada masa janin hingga 2 tahun (1000 hari) pertama kehidupan seseorang.

Menurut WHO, bayi baru lahir (laki2) yang panjangnya kurang dari 48cm adalah stunting. Sedangkan standar untuk perempuan adalah di bawah 45cm!

Cara untuk mengukur stunting adalah dengan menggunakan Z-Score. Pengukuran Z-score bisa dipakai mengukur seorang sampai usia 18 tahun. (js)

Tag: