Menyingkirkan Stigma Kota Ruteng Kota Terkotor

Kanis Nasak, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai (photo : floressmart).

Floressmart- Persoalan sampah di Kota Ruteng saat ini perlahan terurai. Di masa kepempinan Kanis Nasak sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup yang baru, sistem kerja di kantornya dirombak habis. Meski baru sebulan lebih diterapkan, dampaknya mulai terasa. Wajah kota Ruteng yang tadinya kemomos lambat laun mulai terurus.

Kadis Nasak ketika berbincang dengan floressmart  mengaku ia dan jajarannya tidak mau berjumawa kendati mendapat apresiasi dari banyak kalangan termasuk DPRD. Ia dan staf bertekad menyingkirkan stigma kota Ruteng sebagai kota terkotor sebagaimana dipublish Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2018 lalu.

“Prinsipnya kerja kerja kerja demi kebaikan bersama dan mengembalikan citra kota Ruteng sebagai kota molas (cantik),” kata Kanis Nasak, Rabu 5 Februari 2020 di kantornya.

Kepala Dinas yang sebelumnya sebagai Sekretaris Dinkes Manggarai ini fokus merombak habitus kerja para petugas lapangan. Jumlah personel ‘pasukan kuning’ kata Kanis Nasak, tidak ada penambahan dari keadaan sebelumnya, masih berjumlah 59 orang. Sebagai pimpinan, ia memberi apresiasi kepada setiap lini tugas untuk capaian yang meskipun terbilang masih sangat pagi.

Baca juga  Untuk Pertama Kalinya Manggarai Dapat Opini WTP dari BPK

“Sejauh ini hasilnya seperti itu, masyarakat tentu bisa menilai bagaimana kebersihan di kota ruteng sekarang. Kami terus berusaha dan bekerja total supaya Ruteng ini bersih,” ujarnya.

Jam kerja petugas kebersihan diperpanjang

Kanis Nasak tegas berkata tidak main-main dengan sistem kerja yang baru. Kanis bahkan memperpanjang jam kerja petugas lapangan hingga pukul 17.00 WITA. Keputusan perpanjangan jam kerja juga berlaku untuk para petugas kebersihan tingkat kelurahan.

“Petugas lapangan ini tiap pagi apel di masing-masing titik. Untuk memastikan itu para penanggungjawab harus mengirimkan foto dan video secara realtime bersama petugas roda tiga dari kelurahan-kelurahan. Jadi setiap jam 8 pagi harus sudah mulai mengurus sampah hingga jam 5 sore. Amrol mengankut sampah dari depo ke TPA Poco pada jam itu sudah harus bergerak. Kita sudah tetapkan kerja sampai sore,” katanya.

Baca juga  Kampung Diserang,Warga mengungsi Ke Kantor Bupati

Masih terkait petugas lapangan, Kadis Nasak membeberkan tugas pasukan kuning yang bertubi-tubi. Selain membantu memindahkan sampah dari roda tiga petugas kelurahan ke transfer depo atau langsung ke dalam amrol juga mengatasi sampah liar di jalanan.

“Sekarang bongkar dari roda tiga mesti sama-sama dengan petugas kita. Yang jadi soal, sampah-sampah rumah tangga ini banyak yang tidak dibungkus karung. Jadinya kan lama bongkarnya kalau andalkan si petugas roda tiga mau tidak mau kerja keroyokan. Sampah liar di jalanan juga makin banyak,” imbuhnya.

Salah satu titik transfer depo di kota Ruteng

Krisis armada

Ditengah sibuk membenahi manajemen kerja, Dinas Lingkungan Kabupaten Manggarai masih terlilit masalah ketersediaan sarana dan prasarana penunjang. Saat ini DLH Manggarai hanya memiliki dua unit truk yang siaga mengangkut sampah tiap hari, 6 motor roda tiga, dan 9 buah kontainer berkapasitas 350 kilogram. Namun dengan peralatan yang minim, Kadis Kanisius mengatakan pihaknya masih bisa mengurusi sampah puluhan meter kubik tiap hari.

Baca juga  Sempat "Mogok" Sidang, Ini Yang Bikin DPRD Manggarai Mau Membahas RAPBD 2017

“Untuk armada ya jelas kurang. Idealnya, kita butuh tambahan kontainer begitu juga dengan truk, butuh dua lagi juga peralatan kebersihan,” urai Kanis Nasak.

Membagi waktu 70 : 30

Akibat krisis armada inilah sambung Kanis, membuat pihaknya menggenjot pola kerja dan memperpanjang jam kerja petugas. Kanis sendiri dan jajaran juga telah menetapkan waktu kerja untuk struktural dan staf. Untuk Kepala Dinas dan Bidang Kebersihan kata dia untuk lebih banyak berada di lapangan ketimbang di kantor.

“Saya dari awal bertugas langsung membagi waktu 70:30 jadi hanya 30 persen di kantor sisanya pemantauan lapangan. Kalau sudah di lapangan ya harus benar-benar berkaitan dengan pemantauan sampah,” cetusnya.

Dijelaskan Kadis Nasak, ia lebih banyak mengetahui masalah sampah ini dari informasi dan interaksi dengan masyarakat sehingga ia dan jajarannya langsung ‘putar otak’ mencari solusi. Dibekali dengan prinsip tidak mau berlama-lama menyimpan soal, Kanis Nasak terpaksa harus tegas dengan struktur dan staf di kantornya dan ia sendiri pun dituntut bekerja ekstra. (js)

Beri rating artikel ini!
Tag: