Demo Tolak Pabrik Semen Ricuh, Polisi Hajar Mahasiswa

Mahasiswa menggelar aksi demo tolak pabrik semen (photo : floressmart).

Floressmart- Kunjungan kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat di Kecamatan Reok Kabupaten Manggarai, Rabu 24 Juni 2020 diwarnai aksi unjuk rasa. Aksi demontrasi menentang izin pabrik semen dan eksploitasi batu gamping ini ricuh. Sejumlah mahasiswa dihajar aparat.

Sekitar seratusan pendemo yang terdiri dari mahasiswa PMKRI, GMNI dan Pemuda Tolak Tambang berusaha menghentikan iring-iringan kendaraan Gubernur Viktor Liskodat dan rombongan ketika hendak melintas di jembatan Gongger. Upaya mahasiswa mengadang Gubernur justru mendapat perlawanan dari barikade polisi di atas jembatan yang memisahkan Manggarai dan Manggarai Timur ini.

Mahasiswa sebelumnya telah meminta waktu melalui pihak kepolisian agar Gubernur Laiskodat menyempatkan diri untuk berdialog dengan mahasiswa namun politisi Nasdem itu acuh dan melanjutkan kunker di Pota Manggarai Timur.

Baca juga  Pemda Manggarai Terima Naskah Akademik Ranperda Penyelesaian Sengketa Berbasis Adat dari UGM

Mahasiswa dalam tuntutannya meminta Gubernur melanjutkan moratorium pemberian izin tambang di NTT sebagaimana dijanjikan Viktor Laiskodat dalam kampanye sebelum ia terpilih menjadi Gubernur NTT tahun 2018 lalu.

Namun nyatanya Viktor Laiskodat berdusta. Saat ini ia tengah memroses perizinan eksploitasi batu gamping dan pabrik semen di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur.

“Gubernur penipu, gubernur munafik, pengecut,” teriak mahasiswa menggunakan pengeras suara.

Tolak pabrik semen

Dalam pernyataan sikap, PMKRI dan GMNI mendesak Gubernur NTT untuk membatalkan proses perizinan pabrik semen dan eksploitasi batu gamping di Desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda.

“Selain merusak lingkungan, kehadiran bisnis tambang sering kali menghadirkan situasi pro dan kontra yang memicu benih perpecahan di masyarakat. Ada yang memberi janji-janji ‘surga’ seperti masyarakat akan sejahtera, jalan diperbakiki, listrik terang benderang, menjadi kota ramai dll padahal semua itu bohong belaka. Yang ada hanyalah kerusakan lingkungan,” demikian disampaikan seorang orator.

Baca juga  Jabatan Man Klemens sebagai Direktur PDAM Tirta Komodo Diperpanjang Hingga 2022

Menurut mahasiswa, NTT tidak pernah maju karena tambang. Masyarakat NTT saat ini menurut mereka cukup mengandalkan pariwisata, pertanian dan peternakan sebagai leading sektor.

“Gubernur harus konsisten dengan janji Saudara, kenapa Anda memoratorium izin tambang di NTT? itu artinya Anda tahu memang pasti membawa kerusakan lingkungan yang parah di situ. Mari kita buktikan dengan lubang-lubang raksasa bekas tambang mangan masih menganga di Kecamatan Reok dan Lamba Leda. Sekarang pengusaha tambang yang sama mau masuk ke Desa Satar Punda lagi hanya mengganti nama perusahaan,” sebut orator lainnya bernama Patris.

Kawasan Karst 

Dibeberkan mahasiswa bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nomor: SK.8/ MENLHK/ SETJEN/ PLA.3/ 1/2018 tentang Penetapan Wilayah Ekoregion Indonesia disebutkan bahwa total wilayah karst mencapai 81.809 km (33%) dari luas Kabupaten Manggarai Timur.

Baca juga  Bupati Agas : Izin Lokasi Gamping dan Pabrik Semen Sesuai Ketentuan

Sementara rencana pembagunan lokasi pabrik semen berada persis di ekosistem karst yakni Lingko Lolok dan Luwuk di Desa Satar Punda.

“Oleh karena itu secara nyata eksploitasi batu gamping dan pabrik semen oleh  PT. Istindo Mitra Manggarai (IMM) dan PT. Singa Merah (SM) akan merusak wilayah karst yang ada. Kerusakan kawasan Karst nantinya akan berdampak pada bencana kekeringan,” papar Patris.

Sebelumnya kepada wartawan di Ruteng, Gubernur Viktor Laiskodat mengaku cukup berhati-hati sebelum ia mengeluarkan izin eksploitasi kepada PT. Istindo Mitra Manggarai (IMM) dan PT. Singa Merah (SM).

“Tentunya kalau ada dua kepentingan yang bertemu, yang berseberangan, kita hitung betul, mana yang akan menguntungkan Nusa Tenggara Timur ke depan itu yang kita pilih,” ujar dia.(js)

Tag: