Guru adalah Kunci: Refleksi Untuk 50 tahun SMA St Thomas Aquinas

SMA St. Thomas Aquinas Ruteng (photo:floressmart).

Oleh: Jeremias Lemek, SH

Advokat tinggal di Jogjakarta

Floressmart- Kalau tidak salah ingat, SMAK ST. THOMAS AQUINAS didirikan tahun 1970 oleh Yayasan Pendidikan Nucalale. Pada tahun 1970 itu pula langsung menerima murid baru.

Siswa yang diterima sebagai murid baru adalah pegawai negeri yang bekerja di Ruteng, yang belum mempunyai ijazah SMA. Selian itu, diterima juga orang yang tidak naik kelas atau drop out (DO) dari SMA Swadaya, Ruteng.

Baca juga  Rapid Test Keluarga Pasien 01 Negatif Semua

Proses pembelajaran dilaksanakan pada sore hari sampai malam. Waktu itu belum ada listrik, penerangan menggunakan lampu gas. Sekolah ini dikenal sebagai “SMA Sore”.

Mulai tahun 1971 baru resmi menerima siswa yang baru lulus dari SMP se-Kabupaten Manggarai. Saya termasuk murid angkatan kedua yang langsung lulus dari SMP bersama teman yang lain, sekitar 50-an orang. Sekolahnya masih sore hari.

Guru guru yang mengajar kami, sebagian besarnya adalah guru-guru dari SMA Swadaya. Kalau di SMA Swadaya kepala sekolahnya pak Yosep Tatu BA (alm.) dan wakilnya pak Mikhael Ogos, BA (alm.), di SMAK St. Thomas posisi dan jabatan dibalikkan: kepala sekolahnya Mikhael Ogos,BA dan wakilnya Yoseph Tatu,BA.

Baca juga  50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Melkior Anggal, Membangun melalui Pendidikan

Walaupun kami belajar pada sore hari dan mengandalkan guru-guru dari SMA Swadaya, namun ketertiban, keteraturan dan dedikasi guru-guru sangat luar biasa. Guru-guru mempunyai komitmen bahwa SMAK St. Thomas, walaupun sekolahnya pada sore hari sampai malam, kualitas pengajarannya harus sama dengan SMA Swadaya. Guru guru yang mengajar kami saat itu sebagian besarnya adalah Sarjana Muda atau BA. Ada beberapa yang lulusan PGSLP, misalnya pak Mulyanto yang mengajar Aljabar dan Ilmu Ukur Sudut dan Ukur Ruang, tetapi dia jago. Dua orang guru hanya berijasah SMA, yaitu pak Anggalinus Ngonde dan pak Mathias Nggungge.

Baca juga  Dituduh Lakukan Pungli, Ini penjelasan Osy Gandut

Walaupun pak Anggalinus Ngonde hanya berijasah STM A (Jurusan Mekanika) Yogyakarta, namun saat menjadi siswa ia pernah menjadi juara untuk ilmu Kimia se-Asia Tenggara. Dari prestasinya itu, dia mendapat hadiah sebuah jam tangan terbaik saat itu. Arloji itu selalu dia pakai dengan rasa bangga saat mengajar kami.

Tag: