Guru adalah Kunci: Refleksi Untuk 50 tahun SMA St Thomas Aquinas

Kehebatannya dia tunjukkan juga pada saat penataran guru- guru Kimia se-NTT di Kupang. Pada saat mengerjakan soal soal latihan, ada beberapa soal yang sulit, yang tutor/penatar sendiri tidak bisa mengerjakannya. Lalu dia maju untuk mengerjakan soal yang sulit itu. Tutornya terheran-heran, dan bertanya, “Bapak dari SMA mana dan gelarnya apa dan sekolah dimana dulu?” Dia menjawab, “Saya hanya lulusan STM A di Yogyakarta saja,” ujarnya selalu.

Pak Mathias Nggungge juga tidak kalah hebatnya. Dia pernah kuliah di Fakultas Kedokteran UNAIR, walau tidak selesai karena masalah biaya saat itu. Setelah tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lain, Pak Mathias menjadi asisten pribadi Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD. Dia pernah direncanakan untuk mempelajari secara khusus Credit Union (Koperasi Kredit) di Amerika Serikat. “Uskup van Bekkum memimpikan perekonomian masyarakat Manggarai ke depannya dibangun dalam azas kebersamaan. Karena itu beliau berpikir, bagaimana caranya supaya Credit Union ini berhasil di Manggarai,” kisahnya suatu kali. Namun sayangnya rencana itu tidak terealisasi. “Sesudah Uskup van Bekkum pensiun, keuskupan mengirimkan Rm. Thomas Ebo Pr ke USA, namun saat kembali, beliau tidak bekerja di bidang itu,” tuturnya.

Baca juga  Rapid Test Keluarga Pasien 01 Negatif Semua

Pak Mathias kemudian menjadi guru di SMAK St. Thomas Aquinas. Luar biasanya, kendati Pak Mathias bukanlah seorang sarjana atau sarjana muda, dia pernah menjadi kepala sekolah di tempat itu.

Dua orang Guru berijasah SMA tersebut sangat jago di bidangnya. Guru guru yang bergelar BA juga hebat hebat. Mereka bukan sekedar ada gelar. Pak Yoseph Tatu lulusan jurusan Bahasa Inggris IKIP Sanatha Darma Yogyakarta. Pak Mikhael Ogos lulusanan jurusan ekonomi Sanatha Dharma. Pak Kosmas Jalang lulusan IKIP Ende tetapi latar belakangnya pernah mengenyam pendidikan di STFK Ledalero Maumere. Pak Isidorus Jeharut yang mengajar Civic berijasah sarjana muda Sospol UGM. Pak Pit Djeer, lulusan IKIP Ende dan pernah lima tahun di Seminari Kisol.

Guru-guru kami saat itu adalah orang orang yang tahu betul apa yang akan diajarkan pada murid muridnya. Mereka sangat ahli dibidangnya masing masing. Disamping mereka ahli dibidang nya masing mereka juga sangat displin saat mengajar. Disiplin soal waktu, dan juga mempersiapkan betul tentang bahar ajar.

Baca juga  50 Tahun SMAK St. Thomas Aquinas: Melkior Anggal, Membangun melalui Pendidikan

Yang paling menonjol soal displin mengajar adalah pak Kosmas Jalang ,BA. Dia mengajar bahasa Indonesia. Sebelum mulai pelajaran dia selalu memberikan ujian LIMA MENIT. Dengan cara seperti ini terpaksa siswa betul-betul belajar dan menguasai bahan ajar sebelumnya. Kalau ada yang nilainya nol, dia siap-siap untuk mendapat tamparan keras, dan siksa dalam berbagai bentuk.

Pak Kosmas bukan saja hanya memberikan ujian Lima Menit sebelum pelajaran tetapi pada saat mengajar, dia sering memberikan pertanyaan pertanyaan yang harus di jawab secara benar oleh siswa. Kira-kira seperti “Socrates Methods” begitu. Hanya sedikit saja siswa yang tidak pernah dia tampar. Salah satunya saya. Karena nilai Bahasa Indonesia saya selalu baik maka saya sangat dekat dengan dia, bahkan saya semacam asistenya saat itu. Kalau dia ada halangan, saya ditunjuk untuk menulis bahan ajar di depan kelas. Saya bebas membaca koran Kompas dan majalah Tempo di rumahnya, setelah dia baca. Sejak saat itulah saya suka membaca.

Baca juga  Tuliskan Pancadarma Disetiap Kiprah Menggugah Karya dalam Semangat Hardiknas

Pada saat Ujian Negara SMA tahun 1973, angkatan saya yang jumlahnya sekitar 50 orang, hanya 30 orang saja yang lulus, termasuk saya. Dari 30 orang yang lulus tersebut, tentu tidak semuanya melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Saya sendiri tidak langsung kuliah sehabis lulus tetapi tinggal di kampung tahun 1974. Akhir Oktober 1974 saya ke Yogyakarta dan test di UGM. Saya diterima di Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah. Pilihan pertama saya Fakultas Hukum UGM, namun saya gagal diterima. Tahun 1976 saya test lagi masuk Fakultas Hukum UGM, dan puji Tuhanm saya diterima. Saat itu, untuk masuk UGM sangat sulit. Orang Manggarai yang berhasil lolospun cuma beberapa orang.

Tag: