Simulasi Bencana, Helikopter BNPB Mendarat di Wae Rebo

Helikopter BNPB mendarat di Wae Rebo (Seumber photo : BOPLBF)

Floressmart- Untuk pertama kalinya kampung adat Wae Rebo didarati helikopter. Helikopter yang datang tidak sedang mengangkut tamu VIP, tetapi dalam rangka simulasi kedaruratan.

Landasan helikopter (helipad) terbuat dari beberapa lembar papan. Titik pendaratan berada cukup jauh dari permukiman warga sehingga pendaratan helikopter aman untuk rumah-rumah kerucut Wae Rebo.

Warga setempat menyambut rombongan dengan ritual adat ‘tudak’ meminta permisi kepada leluhur sebab bunyi mesin helikopter mengganggu ketenangan alam Wae Rebo. Doa-doa adat juga dipersembahkan kepada Tuhan agar helikopter dan rombongan diberi perlindungan selama penerbangan pulang.

Rombongan terdiri dari Direktur Utama BOPLBF, Shana Fatina, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Manggarai Barat, Dominikus Hawan, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Manggarai, Angkat Anglus, beserta pilot.

Kegiatan simulasi

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores, Shana Fatina menjelaskan, BOPLBF bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Barat, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai hanya menggelar simulasi atau uji coba pendaratan helikopter di kampung adat  yang dijuluki ‘negeri di atas awan’ ini.

“Kegiatan ini dalam rangka memperkuat kesiapan mitigasi dan tanggap darurat bencana (emergency response) kampung adat Wae Rebo untuk menerima kunjungan wisatawan,” ujar Shana Fatina di kampung Wae Rebo, Selasa 22 September 2020.

Baca juga  Mimpi Dua Anak Manggarai Jadi Divemaster

Shana Fatina menjelaskan, uji coba pendaratan helikopter dilakukan sebagai bentuk dukungan dan jaminan pemerintah pusat dan daerah kepada masyarakat kampung adat Wae Rebo yang saat ini sudah mulai menerima kunjungan wisatawan.

“Sejak awal aktivasi kembali wisata kampung Wae Rebo, desain jalur evakuasi memang menjadi salah satu target pemerintah, mengingat jaminan keamanan, keselamatan masyarakat dan wisatawan Wae Rebo menjadi prioritas terutama di masa pandemi seperti saat ini,” tutur Shana.

Lebih lanjut Shana menjelaskan, berbagai upaya untuk mendukung dan menjamin keselamatan masyarakat di destinasi wisata yang sudah mulai beraktivitas kembali seperti kampung Wae Rebo dilaksanakan dengan memperkuat edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan (Cleanliness, Health, Safety, Environment/CHSE secara disiplin, selain menyiapkan jalur evakuasi kampung adat Wae Rebo.

“Kami ingin masyarakat Wae Rebo merasa aman, merasa yakin, dan percaya, bahwa mereka tetap dapat beraktivitas kembali dengan aman, asal  senantiasa disiplin pada protokol kesehatan. Disisi lain, kami perkuat mereka dengan desain jalur evakuasi ini, sehingga dalam keadaan darurat masyarakat Wae Rebo tidak mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan ataupun untuk mengangkut keperluan logistik yang diperlukan,” terang Shana.

Baca juga  Liu Jianpeng Juarai Etape 4 Tour de Flores Bajawa-Ruteng

Emergency response

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Manggarai Barat, Dominikus Hawan mengungkapkan, tujuan pendaratan helikopter di kampung adat Wae Rebo merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam rangka upaya mitigasi bencana dan tanggap darurat bencana (emergency response) di destinasi wisata, baik bencana alam maupun non alam.

“Kondisi keberadaan (existing) dari Wae Rebo yang berada di ketinggian, diapit oleh pegunungan dan akses masuknya yang tidak dapat ditempuh menggunakan transportasi darat, membuat Wae Rebo cukup memiliki potensi kebencanaan. Untuk itulah pemerintah hadir menyediakan helikopter sebagai solusi melalui akses udara jika terjadi kejadian darurat bencana”, ujar Dominikus.

Dominikus mengungkapkan, keperluan pendaratan helikopter disiapkan secara gotong royong oleh warga kampung Wae Rebo sebagai bentuk dukungan warga terhadap upaya mitigasi bencana.

“Masalah kebencanaan ini kan tidak memandang batas administratif. Cara pandangnya harus secara holistik dan menyeluruh, dan menggunakan pola pikir krisis. Ini yang kemudian menjadi fokus kami, bersama BOPLBF, dan Dispar Kabupate. Manggarai secara bersama-sama melakukan simulasi pendaratan dan evakuasi ini”, Dominikus menegaskan.

Sementara itu, Kadispar Manggarai, Angkat Anglus mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam upaya pemulihan kembali aktivitas pariwisata khususnya pariwisata kampung Wae Rebo.

Baca juga  Dukung Pariwisata Super Premium, BOPLBF Lakukan Tour De Florata

“Terima kasih kepada BOPLBF dan BPBD Manggarai Barat yang telah bersinergi bersama kami mempersiapkan berbagai upaya pemulihan pariwisata Wae Rebo. Semoga dengan segala bentuk dukungan ini masyarakat makin percaya diri menerima kunjungan wisatawan dengan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan”, ungkap Anglus.

Aktifitas pariwisata di kampung adat yang berada di Desa Satar Lenda Kecamatan Satar Mese Barat ini dibuka kembali oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat sejak 6 September 2020 namun masih membatasi kunjungan wisatawan.

Pembatasan dilakukan dengan hanya menerima kunjungan harian. Hingga saat ini kunjungan wisatawan dalam rangka menginap belum diijinkan.

Kampung Adat Wae Rebo sendiri merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Kabupaten Manggarai. Terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), Wae Rebo merupakan salah satu desa tertinggi yang ada di Indonesia dengan pemandangan yang sangat indah dengan dikelilingi pegunungan.

Karena lokasinya yang cukup tinggi, untuk mencapai kampung ini, wisatawan harus melakukan perjalanan mendaki selama dua jam melewati 3 pos pendakian, namun perjalanan itu akan terbayar dengan ramahnya penduduk, pemandangan yang indah, dan juga suguhan kopi panas asli yang merupakan salah satu produk perkebunan masyarakat Desa Wae Rebo. (js)

Tag: