10 Fakta Seputar Hidup Gaspar Ehok

floressmart.com– Bupati Manggarai keempat, Gaspar Parang Ehok (1988-1999) meninggalkan beberapa catatan penting untuk ditelisik seputar hidup dan karir politiknya. Berikut sepuluh fakta yang berhasil dihimpun portal floressmart.com:

Pertama, Gaspar Parang Ehok lahir dari keluarga guru di Kampung Ruteng, Golo Dukal, Manggarai,  dari pasangan Siprianus Ehok dan Donata Jenalus pada 9 April 1946. Si sulung dari 16 bersaudara/I ini menamatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Katolik Taga. Satu almamater dengan Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng.

Kedua, ia pernah mengenyam pendidikan calon imam di Seminari  Pius XII Kisol, meski hanya sebatas sekolah lanjutan tingkat pertama.  Kemudian,  ia mengenyam pendidikan di SMA Suryadikara Ende dan di FISIP Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Ketiga, di Yogyakarta, ia menjadi aktivis PMKRI dan menginisiasi  majalah mingguan bernama “Sendi” dengan susunan staf redaksi di antaranya Ashadi Siregar sebagai pemimpin redaksi, Zulfikly Lubis sebagai pemimpin umum, dan pemimpin perusahaan M Aini Chalid. Staf redaksi terdiri dari Gaspar Ehok, Daniel Dhakidae, Peter Hagul, Parakitri Tahi Simbolon, Sjarifudin Salim, dan Achmad Bey Sofyan.

Keempat, Gaspar menikahi Sri Hartuti yang berasal dari Klaten, Yogyakarta. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak yakni Hary Ranaka Wijaya Ehok, Diah Kuswijayanti Ehok, dan Adi Ehok.

Kelima, Gaspar mendapat beasiswa Konrad Adenauer Siftung untuk  studi magister ilmu sosial politik dan pemerintahan (Fisip) di Kota Munchen, Jerman. Satu Universitas dengan DR Norbertus Jegalus (dosen filsafat politik Unika Widya Mandira Kupang), DR Otto Gusti Madung, SVD (Dosen STFK Ledalero), dan  DR Simon Petrus L Tjahjadi (STF Driyarkara Jakarta).

Keenam, ia mengabdi sebagai PNS sejak zaman Gubernur El Tari (1966-1978). Jabatan tertingginya di level Provinsi adalah menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah dengan mencatatkan penerimaan daerah sebesar Rp 95 miliar. Melalui voting DPRD Manggarai,  ia menjadi Bupati Manggarai dari tahun  dari 1988 hingga 1999, menggantikan Bupati Frans Dula Burhan.

Ketujuh. Usai pensiun dari PNS, Gaspar bermukim di Kawasan Oepura Kupang bersama anak bungsunya Adi Ehok yang merupakan PNS di Kupang, NTT. Salah seorang anaknya, Diah Kuswijayanti Ehok bermukim di Labuan Bajo setelah menikah dengan seorang pria Manado. Tatik, panggilan akrabnya sempat menjadi calon legislatif Partai Gerindra dari Dapil Komodo-Mbeliling.

Kedelapan, Pada 2008, ia mencalonkan diri menjadi Gubernur NTT bersama Julius Bobo  (Paket GAUL) dari Koalisi Flobamora dengan perolehan  suara 164.319. Gaspar berhasil menyisihkan Beny Kabur Harman dari bursa pencalonan Partai Kebangkitan Bangsa.

Kesembilan, anak sulungnya, Hary Ranaka Wijaya Ehok meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2011 silam di Kupang. Jasad Ari pun dimakamkan di Kupang, bukan di Kampung Ruteng, Manggarai.

Kesepuluh, Gaspar Parang Ehok meninggal dunia pada Kamis (25/2) di Rumah Sakit Panti Rapih daerah Istimewa Yogyakarta setelah divonis mengidap tumor di tubuhnya. Ia meninggal pada usia 70 tahun. (fro)

 

Beri rating artikel ini!