Ritus Adat Orang Manggarai

Hewan Kurban

Hewan yang telah disembelih memberikan tanda lahiriah dalam bentuk-bentuk terbaca oleh penutur torok. Tanda-tanda itu sudah lazim diterima dengan masing-masing maksud sesuai dengan pernyataan dalam doa (torok/tudak).

Jawaban atas doa yang terungkap dalam tanda memberikan arah positif pun negative bagi pelaku ritual. Jika usus atau hati ayam berkilau, lurus tak bercela, maka Tuhan, roh leluhur, roh alam mersetui permohonan. Jika sebaliknya yang terjadi maka itu pertanda doa tak dikabulkan.

Doa yang tak dikabulkan memberi kesempatan kepada pemilik hajatan untuk melakukan tindakan silih sesuai dengan tata aturan ritus yang berlaku.

Baca juga  PNS Dan Perilaku Berwajah Ganda Dalam Politik

Imam dalam Ritus

Untuk menyampaikan torok/tudak dalam ritus adat, peran penutur torok sebagai imam sangatlah penting. Dialah yang membawakan doa-doa (ata mu’u luju-lema emas) dan memperlihatkan tanda (toto urat) yang dinyatakan lewat usus atau hati hewan kurban.

Melalui pembacaan atas tanda, dia pula yang menegaskan pesan dari tanda itu. Seorang penutur torok/tudak sejatinya adalah orang-orang terpilih dalam satu kampung.

Ia mempunyai kemampuan bukan saja karena hasil belajar semata melainkan juga karena mendapat wasiat langsung dari roh leluhur (ita one nai-lang one nipi). Karenanya, dia harus memiliki kerelaan hati dalam melayani dan menjaga kesucian diri agar pelayanannya membawa manfaat baik bagi masyarakat.

Baca juga  Kopi Kualitas Premium, Mengapa Belum Jadi Fokus Daerah?

Pelestarian Ritus Adat

Ritus orang Manggarai akan terus bertahan. Hal itu disebabkan karena ritus-ritus itu tetap aktual dan relevan dalam memberikan jawaban bagi kebutuhan manusia. Selama orang Manggarai tetap percaya bahwa ritus-ritus itu berdampak positif, maka ritus-ritus itu akan tetap dijalankan.

Selain itu dalam setiap moment kehidupan, privat maupun komunal, hendaknya upacara-upacara adat tetap dijalankan secara konsisten. Upacara-upacara komunal seperti pesta Penti Weki Peso Beo (syukuran) setiap tahun dilakukan secara konsisten agar masyarakat tetap tahu berterima kasih.

Baca juga  Suara yang Terus Menggema (In Memoriam Pius Hamid)

Pada lini privat, kendati beberapa ritus inisiasi sudah dilakukan melalui agama, namun upacara Cear Cumpe dan Teing Ngasang tetaplah dibuat sebagai penanda masuknya seorang individu ke dalam lingkup sosial masyarakat.

Dengan jalan pembiasaan itu, ritus-ritus lain mendapat tempat keberadaannya dengan memerhatikan filosofi kehidupan orang Manggarai “Gendangn one-lingkon pe’ang” yang memberikan bingkai bagi kehidupan manusia di tengah dunia ini.

Ketika ritus-ritus dijalankan dengan benar maka orang Manggarai belajar mengaya nilai darinya dan membentuk karakternya berbasis nilai-nilai itu. ***

Beri rating artikel ini!
Ritus Adat Orang Manggarai,4 / 5 ( 4voting )
Tag: