Membangun Karakter Pemuda di Era Milenial

Kita semua harus terus mendorong mereka untuk terus berkarya. Teladan, bimbingan, mentoring, internship, kesempatan, adalah cara-cara memupuk mereka. Satu pola efektif untuk membangun dan memberdayakan pemuda adalah volunteerism – kesukarelawanan. Dengan bakat dan kemahirannya, satu per satu pemuda sukarela dan teratur memberikan waktu serta tenaga kepada orang-orang maupun komunitas yang membutuhkan.

Kementerian Pemuda dan Olahraga misalnya, memiliki program Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (SP-3). Mereka adalah para sarjana yang berdedikasi dan minimal sudah dua tahun terjun ke daerah untuk menjadi motivator, pendamping, sekaligus menjadi bagian dalam upaya mendinamisasikan aktivitas pemuda di perdesaan.

Baca juga  Pemilu 2019 Milik Generasi Milenial, Relawan Garuda Siap Kawal AHY

Mereka tidak sekadar menginisiasi gagasan, tetapi sekaligus mewujudkan gagasan tersebut menjadi karya nyata. Setiap tahun sejak 1989, Kemenpora menerjunkan sekitar 1.000 sarjana ke desa-desa di seluruh penjuru Tanah Air untuk menjadi penggerak dan ikut terlibat dalam mengawal proses perubahan. Inti dari program ini adalah memotivasi pemuda untuk menjadi pelopor di desanya sendiri.

Urgensi pemuda mengawal proses perubahan, tentu tidak berarti membiarkan mereka bebas melakukan apa saja. Arahan, tuntunan, teguran bahkan tindakan tegas tetap diperlukan agar tindakan mereka tidak kebablasan. Arahan yang sama diperlukan manakala sikap kritis dan kreatif kaum muda terwujud ke dalam tindakan kekerasan fisik atau verbal, juga bentuk-bentuk kejahatan lain. Misalnya, yang sedang mewabah saat ini, yakni terlibat dalam menyebarkan kebohongan (hoaks).

Baca juga  Politisi Demokrat Tantang Pesaing Bertarung Jujur

Tindakan mengarahkan dan menegur juga harus kita terapkan pada sikap menonjolkan identitas kelompok atau golongan (termasuk suku, agama dan ras) yang seringkali justru meremehkan, mengabaikan, atau meniadakan jatidiri kelompok yang dianggap lain.

Generasi milenial memang memerlukan identitas yang jelas dan tegas tentang dirinya. Hal itu paralel dengan intisari demokrasi yang memberikan keleluasaan untuk menentukan perkumpulan yang paling sesuai dengan dirinya. Biarkan jatidiri tumbuh berbeda-beda, juga kumpulan-kumpulannya. Seperti halnya ketika Kongres Pemuda II tahun 1928, di mana pesertanya datang dari bermacam perkumpulan.

Baca juga  Ini Keluhan Nelayan Nanga Paang ke Iwan Manasa

Eratnya ikatan kaum muda karena semangat Bhinneka Tunggal Ika harus dibarengi dengan kecerdasan, kemahiran, dan kearifan. Hanya dengan itu bangsa Indonesia dapat mencapai kemajuan dan martabat sebagai bangsa yang berpengaruh di dunia. Setiap kali dihadapkan pada potensi perpecahan, segeralah temukan titik-titik rekat sampai semua utuh kembali.

Beri rating artikel ini!
Tag: