Demokrasi Plastik Homo Manggaraiensis

floressmart.com- PILKADA serentak kini memasuki massa tenang. Masa tenang dalam fase-fase pilkada dipahami sebagai masa kosong kampanye dan sosialisasi. Masing-masing pihak menahan diri untuk melakukan kampanye. Sebab, waktu kampanye sudah usai.

Kini saatnya tenang. Menyiapkan diri menentukan pilihan. Panwas sibuk membersihkan atribut kampanye, meski nyatanya tidak semua akan bersih. Begitulah panwas. Nama keren tapi tugasnya tidak mudah. Kelihatan gagah tapi tak punya daya.

Meski demikian, masa tenang tidaklah selalu tenang. Justru masa tenang adalah masa seolah-olah tenang. Gerakan senyap dengan sedikit keributan dan dalam strategi tak terjangkau kerja pengawasan mudah dilakukan.

Masa tenang itu kan aturan, tapi aturan itu tak melarang kerja senyap untuk pemenangan kandidat. Masa tenang, sebenarnya, masa melepas lelah, beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kampanye dan investasi emosi yang memicu lelah.

Kepentingan utama para pengawal demokrasi adalah menjadikan pilkada sehat. Dan masa tenang yang tak tenang menjadi masa paling rentan aksi politik kotor. Politik uang dan intimidasi merupakan dua dari sekian contoh gelagat politik kotor itu.

Karena setiap pemeluk kemajuan demokrasi sepakat bahwa proses seleksi pemimpin lewat suara mayoritas menjadi salah satu cara untuk menata daerah ini, maka kepentingan kita satu.

Baca juga  Menangkap Repertoire Gersos Usai Kongres dan Pilkada

Kita sedang mendidik diri untuk memberi kontribusi sebagai warga negara dengan memilih pemimpin yang tepat untuk memimpin Manggarai. Kita pemeluk demokrasi akan menjadi yang terdepan untuk menghalau dan menghancurkan para pihak yang menabur konflik dalam pilkada Manggarai.

Kalau proses politik Manggarai kotor, maka akan menabur konflik berkepanjangan. Kalau kepentingan kita adalah memajukan dan menaikan kelas demokrasi di Manggarai, maka karya bersama ditujukan untuk menangkal dan menghentikan politik kotor.

Demokrasi Plastik

Demokrasi kita riuh rendah penuh tepuk tangan dan sorak sorai sabankali pemilihan langsung. Dengan secara tidak kentara kita merayakan suatu demokrasi liberal dengan penentuan pemerintahan melalui suara mayoritas.
Saat pilkada adalah pesta besar di mana ada yang jadi sekadar penikmat, ada pemain langsung, dan ada pula yang hanya melihat dari jauh.

Perayaan kita adalah demokrasi plastik. Yang indah dalam bentuk dan prosedur, tapi belum tentu dalam esensi. Seperti bunga plastik yang lebih bertahan dari bunga hidup. Demokrasi plastik bertahan, bahkan penuh imitasi. Misalnya imitasi soal jargon, gaya kampanye, fashion, desain, dan strategi  penyebaran isu dalam kompetisi dua kutup politik Deno Madur dan Hery Adolf. Meski plastik, nikmati saja, namanya saja pesta demokrasi.

Baca juga  Jalan Terjal Politik Orang Muda

Tindak tanduk sosial Homo Manggaraiensis pun menunjukan dua kutup politik. Ada penggemar Deno Madur, ada pula penggandrung Hery Adolf. Dua kutup yang acapkali bermain dalam oposisi kata dan makna. Misalnya soal simbol tua-muda, kumis-klimis, lama-baru, berpengalaman-masih coba-coba, bekerja-berencana, merakyat-feodal,  dan macam-macam.

Nah, bisa saja lapisan episteme Homo Florensis hanya jatuh pada kegemaran simbolik berupa jargon, kata, dan foto. Jargon cara baru, misalnya, jatuh pada asumsi, seolah-olah apa yang dilakukan baru sama sekali. Padahal tidak ada yang baru di bawah matahari,  ucap Kebijaksanaan Romawi.

Dalam sejarah, pola-pola govermentalis masyarakat dunia selalu berdaur ulang. Bentuk berubah, esensinya tetap. Juga jargon lanjutkan di satu pihak, akan memicu rasa bosan publik. Seharusnya, yang diutamakan bukan melanjutkan, melainkan memperbaiki. Sebab pemerintahan yang baik selalu memperbaharui diri (semper reformanda).

Dua kutup pilkada juga memunculkan keberulangan sejarah. Dukungan berubah tergantung persatutubuhan kepentingan yang bersua dalam tindak tanduk politik. Misalnya, dulu ada yang militan dukung Credo, saat Pilkada 2015 mereka mendukung Head. Atau ada yang dulu anti Credo, sekarang mereka menyokong Deno Madur.

Ini adalah kepastian sejarah. Sebab, tak ada kita dan mereka yang abadi dalam politik. Yang abadi adalah persamuhan kepentingan dan isu yang diperjuangkan. Ini lumrah. Wajar. Biasa-biasa saja. Inilah fakta. Inilah gelagat politik homo manggaraiensis.
Filsafat politik barat pun mengakui ini, tak ada pertemanan abadi dalam politik. Yang abadi adalah kepentingan yang sama. Jadi, jangan kecewa.

Baca juga  ‘Konsensus Politik’ Kristen vs Katolik, Cara Halus Memotong Kader Potensial Dalam Pilgub NTT

Yang sewajarnya diwaspasai bukan perbedaan pilihan melainkan tindak tanduk politik busuk dan kotor seperti jual beli suara. Dengannya perjumpaan kepentingan DM dan Head adalah memajukan Manggarai dengan menjadikan demokrasinya naik kelas dalam esensi, yakni menjadikan demokrasi kanal perjuangan untuk kemaslahatan bersama.

Soal kalah menang itu lumrah. Sebab demokrasi juga melatih kekuatan hati agar tak mudah sakit hati. Sebab, hari ini boleh tunjuk jari, bisa jadi besok gigit jari.

“Mereka yang kalah adalah mereka yang tidak pernah gagal. Kalah berarti bertekuk lutut dalam peperangan atau pertempuran. Gagal berarti kita tidak meneruskan perjuangan,” ucap novelis asal Brazil Paulo Coelho. Orang yang tak berani merasakan kekalahan tidak akan bisa menjadi pemenang dalam hidup ini.

Menangkan demokrasi Manggarai. Selamat memasuki silentium politik.

Fian Roger; web content writer, traveller, dan pemerhati demokrasi lokal.

 

Beri rating artikel ini!
Tag: